Welcome To My Blog

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,Gifo di kampus............................

Nursiang,Nurfayana Amir,Hermawati,Adeirma Suryani

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

text goyang

Tampilkan postingan dengan label cerpen cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Januari 2014

PACAR MAKAN TEMAN

PACAR MAKAN TEMAN
Karya Titin Dewi J.P
Matahari mulai mendaki kaki sang langit. Perlahan-lahan beranjak dari peraduannya, hingga kehangatannya mulai terasa oleh makhluk-makluk bumi. Tak begitu panas, namun cukup hangat hingga membuat orang malas keluar rumah lantaran takut kena sinar UV. Namun bagiku itu adalah anugrah, karena dengan begitu aku bisa nyuci baju yang belum aku cuci seminggu dan menumpuk di pojok kamar kecil kosan ku.

Aku Vika, sejak awal masuk kuliah di Universitas Jember aku tak pernah punya kenalan cowok yang cocok di hatiku buat jadi pacar plus driver buatku. Yahhh…. Akhirnya gini deh, kemana-kemana harus on foot with my soulmate, Tiara. Tapi gag papa, karena temenku yang satu ini gokil banget, waaupun sebenernya kita udah sahabatan dari awal masuk SMK, tapi kegokilannya jadi makin parah setelah masuk kuliah ini.

Tak kusangka nomor nyasar dua hari yang lalu menjadi awal dari cerita ini. Awalnya sih dia kirim message ke aku. Akunya sih biasa aja, kan emang dasarnya cewek cuek-cuek gitu. Padahal kalo’ dicuekin balik pasti gag mau.
“Mau aku jemput gag..?? mau yaa.. yaaa..yaaa… sekalian ketemuan gitu”, katanya lewat sms yang dikirim ke my cell phone setelah aku bilang kalo’ aku lagi di bus, habis mudik. Dan aku iya’in aja. 
Kan lumayan dapet ojek gratis. Hehehe…
Ketika aku turun dari bus aku bingung yang mana orangnya, karena ini adalah pertama kita ketemu semenjak kita chat lewat message seminggu yang lalu. Dan di seberang jalan tepat arah jam dua belas aku melihat sesosok tubuh sedang menunggu. Mungkinkah dia..??
“Vika yaaa…,” katanya sambil menghampiriku.
“Iya… kamu Findra ta…??” sahutku kemudian.
Lalu dia menjabat tanganku seperti orang maaf-maafan pas lebaran. Aku tertawa dalam hati. Akupun berfikir kekonyolan macam apa ini hingga membuatku salah tingkah seperti ini. Tanpa ku sadari aku senyam-senyum sendiri tak tau apa yang sedang ku fikirkan.
“Thanks ya… dah nganterin jemput and nganterin aku ke kosan..” kataku sesampainya di depan pintu gerbang kosanku yang agak mewah itu.
“Oke… kalau butuh apa apa hubungi aku, jangan sungkan sungkan…” jawabnya sambil melontarkan senyuman.

Dan Findra pun berlalu pulang. Namun benakku masih merekan jelas bayangannya. Tak kusangka dia orangnya baik, enak diajak ngomong, lucu, nyambung, and yang terpenting aku ngerasa nyaman didekatnya. Duuhhh… kok jadi aneh gini sih aku..
“Kenapa kamu senyam-senyum gitu, kesambet setan darimana loe chuy…”, celetuk sahabatku Tiara yang tiba tiba muncul di hadapanku.
“Gila loe, aku kaget nie..” sahutku.

Aku pun berlalu meninggalkannya yang masih melongo kayak kebo di depan pintu kamar gara gara heran lihat aku senyum senyum. Mungkin dia baru sadar kalau senyumanku ini bisa mengalihkan dunianya. Dan itulah yang terjadi, dunianya beralih menjadi dunia yang penuh tanda tanya.
Lama lama aku kasihan juga melihat sahabatku, dari tadi aku saksikan wajahnya menyimpan pertanyaan. Akhirnya aku putuskan untuk menceritakan apa yang membuat aku seperti ini. Dan dia Cuma melongo, dan kali ini dia gag kayak kebo tapi lebih parah lagi, dia kayak sapi ompong yang gag punya gigi. Namanya aja ompong jelas aja gag punya gigi, dasar oon gue.

Tiga hari kemudian aku diajak nonton sama Findra. Setelah nonton kita berdua dinner, terus muterin alun-alun gag jelas tujuannya sambil ngobrol gag jelas juga. Lalu kita berhenti di kedai ice cream cone kesukaanku and Tiara. And disitu dia nyatain perasaannya sama aku. Dia nembak aku. Dan aku langsung kena tembakannya. Jadi malam itu aku jadian sama dia.
Seminggu berlalu, dan aku punya rencana nyomblangin Tiara sama sepupunya Findra, Herma namanya. Dua hari kemudian mereka jadian. Dan itu tandannya aku berhasil jadi mak comblang. Wahh, jadi kayak kontak jodoh aja nih aku.
“Besok mudik gag chuy..??” Tanya Tiara sepulang dinner sama Herma.
“Kasih tau gag yaaa…” celetukku menggodanya.
“Hhhmmm… kalo’ pulang sih ayo bareng aja, soalnya aku mau dianterin Herma, ntar kamu sama Findra yaaa…” terangnya kemudian.
Aku berpikir sejenak, lalu manggut manggut pertanda setuju.

Waktu mudik pun tiba. Sudah biasa bagi anak kos seperti kami selalu pulang saat week end tiba, jika nggak punya uang. Tapi kalo’ masih full kantongnya kami hanya menunggu next week end. Namun mudik kali ini akan lebih panjang karena seminggu full kita libur untuk minggu tenang. Suara sepeda motor yang berhenti di depan gerbang kosanku membuatku harus cepat cepat keluar, karena aku tau kalo’ itu Findra and Herma driver and co driver kami. Hehehe.

Dan benarlah bahwa mereka telah siap untuk mengantar para putri ke istana. Akhirnya kamipun meluncur menuju ke terminal Pakusari, tempat dimana aku dan Tiara biasa menunggu bus. Sesampainya di terminal kami berempat saling chatting. Findra pacarku, asyik ngobrol dengan sahabatku Tiara tanpa menghiraukan keberadaanku dan Herma. Namun aku tak curiga sedikitpun, karena aku percaya sahabatku tak mungkin menyakitiku.

Bus yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dan kami pun berpisah. Setelah aku dan Tiara masuk ke dalam bus, Tiara cerita tentang apa yang dia omongin sama Findra tadi. Sahabatku ini memang selalu terbuka denganku. Apapun yang ia rasakan entah itu sedih atau bahagia, pasti dia selalu menceritakannya padaku.

Suatu sore setelah dua hari aku berada di rumah, Tiara memberi tau aku kalau dia putus sama Herma. Aku tanyai apa alasannya putus, dan dia menjawab kalau ternyata Herma sudah punya pacar. Aku jadi ngerasa bersalah sama dia, karena aku yang menyomblangkannya dengan Herma. Tapi aku berusaha menenangkan diri dan mencoba menghibur sahabatku itu. Akhirnya diapun merelakan hubungannya yang harus kandas secepat itu.

Tak kusangka kalau putusnya Sahabatku dan Herma akan berimbas padaku. Dua hari kemudian Tiara memberitahuku sebuah berita yang sebenarnya tak ingin kudengar, karena itu sungguh membuatku muak. Sebenarnya aku tak mau mengingatnya, tapi karena aku harus bercerita padamu jadi terpaksa deh ku buka kembali memori otakku untuk mengingat kata kata itu. Dan inilah kata-katanya lewat message yang dikirimkan padaku..
“Chuy kamu ngerasa aneh gag sih sama Findra..?? masa’ dia bilang gini ke aku… I LOVE YOU..”
Dan setelah itu aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Findra. Walau aku tau sahabatku tak mungkin menghiraukan kata-kata itu. Namun aku ngerasa Findra memang bukan untukku dan dia kayaknya gag beneran sayang sama aku. Buktinya dia masih ngelirik sahabatku. Bahkan disaat statusnya masih pacaran denganku dia berani bilang LOVE pada sahabatku sendiri

KEJADIAN YANG TAK DI SANGKA-SANGKA

KEJADIAN YANG TAK DI SANGKA-SANGKA
Karya Resti Nurmalasari
Aku Tierra, Aku duduk dibangku kelas IX SMP. Aku termasuk anak yang lumayan rajin, karena itu aku masuk di kelas A. kelas A, adalah kelas yang diinginkan oleh semua Murid. Awalnya aku masuk kelas B, tapi nggak tahu kenapa, waktu semester 2 aku naik ke kelas A, aku kaget, dan aku senang banget. Aku mengikuti ekstrakulikurel Pramuka. Karena aku suka banget dengan Paramuka, karena didalam Pramuka aku menjadi disiplin dan mandiri.

Biasa jam 05.00 pagi aku bangun, aku mandi. Setelah mandi, aku sholat shubuh, aku membereskan buku pelajaran yang akan di bawa sekolah. Sebelum berangkat aku sarapan dulu.
Dari luar sudah terdengar suara Briyan yang memanggil-manggilku. Lalu aku bergegas pamitan kepada ibuku dan berangkat. Aku berangkat di jemput oleh Briyan dan pulangnya pun di antar oleh Briyan. Briyan sangat baik padaku. Kami berdua satu sekolah dan satu kelas. Kami pun duduk bareng. Kami sudah lama bersahabat. Kami bersahabat sudah hampir tiga tahun. Dia suka curhat kepadaku dan begitu pun aku suka curhat kepada dia.
Hari Sabtu pelajarannya olahraga. Lalu Briyan mengajakku basket.
“Tieer, basket yuk?” ajaknya.
“Enggak ah!” jawabku.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
“Aku nggak bisa basket,” jawabku lagi.
“Tenang, aku ajarin,” ajaknya.
“Bener nih, awas kalau kamu bohong,” jawabku kembali.
Kami berdua main basket, aku tidak bisa basket oleh Briyan di ajarin basket. Tiba-tiba Bel tanda istirahan pun berbunyi. Aku dan Briyan pergi ke kantin untuk membeli makanan dan minuman. Selesai makan kami langsung perg ke kelas, karena teman-teman sudah menunggu. Sampai di kelas, aku langsung pergi ke WC untuk mangganti baju, karena masih ada pelajaran berikutnya.

Bel tanda berakhirnya pelajaran telah berbunyi. Bryan langsung menghapiriku, dan mengajakku pulang. Di jalan kami bercanda-canda,. Tiba-tiba Briyan berhenti dan memandangku. Namun pandangannya kali ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya.
“Kenapa Yan, kok berhenti sih?” tanyaku heran.
“Enggak, aku cuma pingin lihat wajah kamu yang sangat manis,” jawabnya sambil senyum.
“Kamu ada-ada saja, aku kan jelek,” jawabku lagi.
“Beneran, aku tidak bohong,” jawabnya lagi.
“Sudahlah ayo jalan lagi. Ibuku sudah menunggu di rumah,” ajakku padanya.

Briyan pun menjalankan motornya kembali. Sesampainya di rumah, seperti biuasa Briyan mampir dulu ke rumahku. Kami berdua masuk ke dalam rumah, kami ngobrol-ngobrol. Tiba-tiba, ibu muncul dari dapur sambil membawa teh manis dan pisang cokelat.
“Nak Briyan, ini ibu buatkan teh manis, dan ini kebetulan ibu sedang goreng pisang cokelat kesukaan Tierra. Silahkan dicicipi,” kata ibu.
“Makasih banyak Bu, jadi merepotkan,” ujar Briyan.
“Enggak apa-apa,” jawab ibu.
Kami ngobrol-ngobrol sudah lumayan lama, kami ngobrol sudah hampir dua jam. Briyan pun berpamitan untuk pulang.
Malam Minggu, adalah malam yang di tunggu-tunggu oleh setiap orang yang mempunyai pacar. Karena di malam Minggu, mereka gunakan untuk bermain/jalan-jalan bersama pacar mereka. Tapi bagiku, malam Minggu adalah malam yang biasa saja, seperti malam-malam yang lainnya. Di malam Minggu, aku biasa menghabiskan waktu bersama ibuku. Karena ayahku sedang bekerja di lua kota. Jadi kami hanya tinggal berdua.

Tiba-tiba, handphoneku berbunyi, aku langsung lari menuju kamarku untuk mengambil handphone dan ketika aku angkat ternyata Briyan yang nelpon. Aku kaget, karena malam-malam Briyan nelpon. Biasanya dia nelpon pagi-pagi untuk menanyakan pelajaran.
“Hello, Assalamu’alaikum,” sapaku.
“Wa’alaikumssalam,” jawabnya.
“Tumben malam-malam kamu nelpon, ada apa?” tanyaku heran.
“Besok aku akan ke rumahmu, dan besok aku akan ajak kamu ke tempat biasa ketika aku sedang sedih,” jawabnya lagi.
“Ya, besok aku tunggu di rumah,” jawabku.
“Sudah dulu yah, Assamu’laikum.”
“Wa’alaikumssalam.”

Selesai menelpon, aku langsung menghampiri ibuku yang sedang nonton TV di ruang tengah. Ibu sangat baik padaku, ibu sudah merawatku sejal kecil. Olehkarena itu aku sangat sayang pada ibu. Dan pada saat ayahku mau berangkat ke luar kota ayah mengajak ibu, namun ibu tidak mau. Ibu lebih memilih tinggal di desa daripada tinggal di kota. Ketika ayahku pergi aku baru berusia 7 tahun., dan pada waktu itu aku baru kelas 1 SD. Sampai sekarang aku kelas IX SMP ayahku belum pulang mungkin di sana ayah sibuk dengan pekerjaannya. Tetapi dalam kesibukannya, ayah masih menyempatkan waktu untuk menelpon kepada kami. Kata ayah, besok malam tahun baru ayah akan pulang, dan katanya ayah tidak akan berangkat ke luar kota lagi. Karena ayah sangat sayang padaku.
Besok paginya, seperti biasa aku bangun jam 04.30 pagi, aku cuci muka dan mengambil wudhu terus sholat shubuh. Selesai sholat aku membantu ibu cuci piring, ngepel, dan nyuci bajuku dan baju ibu. Habis nyuci baju barulah aku mandi dan sarapan. Setelah sarapan aku menyempatkan waktu 20 menit untuk membaca buku.

Sambil menunggu Briyan, aku membantu ibu. Kebetulan ibu sedang membuat kue donat karena ada pesanan. Dari luar sudah terdengar suara motor Briyan. Briyan pun mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum,” salamnya.
“Wa’alaikumssalam, eh kamu Yan, silahkan masuk,” jawbku.
“Ya, kamu sedang apa Ti?” tanyanya.
“Aku sedang bantu ibu membuat kue donat,” jawabku.
“O,” jawabnya.

Ketika Briyan sudah di rumahku aku pun langsung ganti baju. Kami berangkat menggunakan motor. Sesampainya di tempat itu aku disuruh menutup mataku. Ya terpaksa aku harus menutup mataku. Setelah beberapa menit lalu Briyan menyuruhku untuk membuka mataku.
“Coba sekarang buka matamu,” ujarnya.
“Ya,”

Ketika aku buka mataku ternyata aku berada di sebuah taman yang sangat indah, dan Briyan duduk di sampingku sambil memegang sekuntung mawar merah. bunga tersebut lalu di berikan kepadaku dan dia berkata.
“Ti, aku boleh ngomong sesuatu nggak?” katanya.
“Boleh! Emang ada apa?” tanyaku.
“I LOVE YOU! Maukah kamu menjadi pacarku?” tanyanya lagi.
“Emm, maaf yah, aku nggak bisa nolak kamu,” jawabku.
“Berarti kamu mau menjadi pacarku?” tanyanya penasaran.
“Ya,” jawabku lagi.

THE END

TRUE LOVE

TRUE LOVE
Karya Dina Pertiwi
Cinta sejati. Apakah kalian percaya akan itu? Akan "Cinta Sejati" yang konon katanya dimiliki oleh semua orang? Cinta yang katanya sangat indah dan menyenangkan? Mitos cinta sejati yang terus menerus melolong dihatiku.
***

Kupandangi bingkai biru di tepi tempat tidurku. Aku tersenyum menatap benda yang ada didalam bingkai itu.

Bukan sebuah foto ataupun lukisan. Hanya sebuah kertas lusuh. Kertas catatan PKN yang aku robek dari buku miliknya 2 tahun lalu saat perpisahan SMP. Dia sama sekali tidak tahu aku merobek buku catatanya. Bahkan, mungkin dia tidak mengenalku. Aku hanya satu dari ratusan penggemarnya di sekolah.
Dia bukan artis. Dia adalah siswa tampan dan cerdas di sekolahku. Dia kaya dan pintar dalam bidang olahraga. Sifatnya yang cuek justru menjadi daya tarik bagi para kaum hawa, termasuk aku. Tapi, bisa dibilang, aku tidak terlalu menunjukkan diri bahwa aku menyukainya. Terbukti. Aku tidak pernah menyapa ataupun menegurnya. Aku menyukainya lewat diam.

Bahkan, robekan catatan PKN itu aku ambil diam- diam untuk kenang- kenanganku karena aku tahu dia akan melanjutkan study ke L.A.

Aku kembali tersenyum manis saat melihat robekan catatan itu. Orang bilang, apapun itu, jika memang jodoh, maka dia akan kembali lagi dan lagi. Dan aku percaya dia akan kembali kulihat.

Aku mengeluarkan kertas itu dari bingkainya. Kupeluk- peluk dan kubelai. Ku ajak tertawa dan tersenyum.

Gila. Konyol memang. Setelah puas dengan kegiatanku itu, aku meletakkan kertas itu di atas meja belajarku. Dan...
Syuuuut...
Angin bertiup menerbangkan kertas kenangan itu keluar jendela dan jatuh dipekarangan. Dengan sigap aku keluar rumah dan mengejar kertas itu. Itu adalah satu- satunya milikku yang mampu membuatku mengingatnya.

Saat aku hampir mendapatkanya, angin kembali meniupnya menjauhiku. Argh! Angin ini! Batinku kesal.

Aku kembali mengejar kertas itu. Dan saat aku hampir mendapatkannya kembali...
"Argh!! Sial banget sih?! Malah keinjek lagi!" seruku kesal saat tahu kertas itu di injak seseorang. Orang itu mengambil kertas yang ada di injakannya itu. Aku masih menatap jalanan berdebu dengan kesal.
"Jadi, daritadi kamu ngejar kertas ini ya?" ucap orang itu. Suara bariton yang ku kenal. Ku tengadahkan kepalaku menatap wajah dari si pemilik suara.

DEG!!!
Di... Diakan? Diakan pemilik kertas itu sebenarnya? Vigo. Cowok tampan, keren dan pintar itu... Bagaimana bisa?
"Ma... af. Aku ngerobek kertas itu...."
"gapapa kok Dina. Beneran deh gapapa. Karena, aku juga udah foto kamu diam- diam waktu itu." akunya padaku. Dia... Tau namaku?
"foto?! Diem- diem?"
"Lebih baik, kita nostalgianya ditaman aja deh." ucapnya sambil menarik tanganku ke taman.
***

Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Fotoku ada dalam dompet Vigo?
"Aku dulu suka banget sama kamu Dina. Karena, kamu itu satu- satunya cewek yang gak pernah negur aku. Kamu cuek dan aku suka itu." ucapnya sambil tersenyum.
"Dulu, aku berharap bisa kenal dan pacaran sama kamu. Tapi, dekat kamu aja aku udah gemetaran, apalagi ngobrol sama kamu..." ucap Vigo lagi. Lalu dia menatap robekan kertas itu.
"Aku tau kok, kamu ngerobek kertas ini. Cuma aku pura- pura gatau aja. Aku seneng banget waktu kamu robek kertas ini. Karena itu artinya, kamu juga suka sama aku. Iyakan?" ucapnya yang membuatku tersipu malu.
"Ikh... Kok diem aja?" ujarnya sambil mencubit pipiku pelan.
"aku bingung mau ngomong apa..."
"Kamu percaya mitos True Love gak?"
"True Love? Emang ada?" tanyaku.
"mulanya, aku juga gak percaya. Tapi malem ini aku percaya. True Love aku udah aku temuin lagi. Aku suka kamu." ucapnya sambil natap bintang.
"udah jam 12 belom?" tanyanya.
"udah. Udah jam 12 tepat."
"Happy Birthday Dina :). Will you be My True Love?"

Apakah dia menyatakan perasaannya. Tanpa sadar, aku mengucapkan
"yes. I will."
***

Percaya atau tidak, itulah faktanya. True love akan datang. Sejauh dan sesulit apapun, Cinta Sejati akan mencari jalan lagi dan lagi untuk kita temukan. :)

SATU MINGGU

SATU MINGGU
Karya Thalita Freda
Senin,
"Aduh, Sorry banget deh ya. gue buru-buru nih , gue beresin bentar deh buku-buku lo yang jatuh, sekali lagi sorry banget !!!" kataku yang sekali lagi menabrak orang. tapi orang yang kali ini benar-benar luar biasa ! Bray, adalah cowok populer di SMA 'GANDHI MEMORIAL INTERNATIONAL SCHOOL' ini. "Yayaya terserah lo deh, bukannya lo Rensy ya? mantannya si Zefannya Johnston ya? bule dari Amerika lol" jawab Bray. 'ini orang kenapa malah ngajak gue ngobrol coba?' gumamku dalam hati. tanpa kupikir cepat-cepat aku langsung berkata "Ya" Lalu aku langsung lari meninggalkan Bray Varlando di koridor karena data-data yang aku bawa ini langsung aku berikan ke Mr.Louis di ruang guru.
Selasa, sehabis pulang sekolah.
aku meminta Syakira agar menemaniku ke Gramedia dia pun ikut, karena dia ingin membeli novel remaja yang baru. Sebenarnya dia baru beli novel kemarin. hanya saja sudah habis dia baca. "Ren, gua kamar mandi dulu ya, gatahan nih" Ucap Syakira. "Iya-iya, jangan kemana-mana ya! langsung kesini" jawab ku ke Syakira "Yaya,Oke" jawabnya. lalu Syakira meninggalkanku ke kamar mandi. saat aku jalan sambil melihat novel yang ingin kubeli karena aku sedang membaca sinopsisnya 'kelihatannya seru' pikirku. karena aku dari tadi hanya fokus ke sinopsisku tanpa sengaja 'BRUKK!' aku menabrak laki-laki yang sedang memainkan I-phone nya ! dan jatuh. 'oke,sudah keberapa kali gue nabrak orang?!' kataku ke diri sendiri. "Hei, lo Rensyy????kok bisa-bisanya ya kita ketemu lagi?" Kata Bray tak percaya. "Yaya Bray-Bray, disini gue sama Syakira. beli novel. lo ngapain ya disini?" Tanyaku santai. sebenarnya aku bertanya ke Bray karena bosan bukan ingin. "Oh, disini gue sama anak-anak basket. biasa..." jawab Bray. "RENSYY" teriak Syakira. "Ehh,, udah ya bye" kataku ke Bray Verlando. lalu aku menghampiri Syakira dan berkata "Ehehe, Ra sorry banget. tadi ketemu anak basket lo tau nggak siapa?" Kataku membuat Syakira penasaran. "Engga, siapa emangnya. ZefanJohsnton?,NickFoky?,emm ya!GerryNaldo?" katanya berharap, salah satu nama yang dia sebut benar. "Bukan! tebak lagi!" kataku "Oke,oke FernandoBrian?,GerryHockley? ah udah siapa-siapa?" katanya menyerah "Ehehe nyerah nih, Bray Verlando" kataku semangat. "Jawabnya semangat amat,wah cie lo suka ya sama dia ?? cie yang punya perasaan" ledek si Syakira "Enggak! makan yuk laper nih gue" aku mengalihkan pembicaraan "Yukss, Ahhh" jawabnya

Rabu,
Bel pulang sekolah berbunyi juga. pelajaran MTK yang sama sekali tak kupahami akhirnya berhenti juga karena aku hanya bisa menyontek dengan anak pintar disekolahku yang bernama Yaffie, yap! dia cowok karena wali kelas kami. menyuruh duduk dengan lawan jenis. agar tidak bercanda. justru itu, kenapa guru itu tidak berfikir kalau bisa saja mereka pacaran?. aku keluar kelas dengan Syakira. setelah menunggu sopirku yang tidak juga datang, Bray Verlando menghampiriku. "Hei, Ren. belom dijemput?"Tanyanya sambil meminum sebotol sodanya. pas dengan dia bertanya Blackberryku berbunyi ternyata mamah yang nelfon. aku minta izin ke Bray agar aku mengangkat telfon dulu 'halo??' terdengar suara mamah disebrang sana 'ya mah?' jawabku 'maaf sayang, hari ini papah meeting dan mamah ada rapat di kantor dan pak Dito sakit. jadi kamu bisa pulang sendiri tidak?"kata mamahku 'Ohaha, nggak papa aku pulang naik patas ACaja' lalu langsung kututup telfon mamahku dengan perasaan kesal sebenarnya. "Hei Bray. gue gadijemput gue pulang sendiri" kataku "Sejak kapan lo pulang sendiri???ehh maaf, gue aja yang nganter. Oh ya, mau temenin gue ke bioskop nonton Twilight breaking dawn 2 nggak??"kata Bray. "Aduh gimana ya?? masih siang sih oke, gapapa" kataku mengangguk, lalu masuk ke mobil Merchedez Benz nya. di bioskop aku tidak tau kenapa, aku tidak fokus ke filmnya. melainkan aku tidak tau perasaanku ke Bray

Kamis,
Bray menjemputku pagi hari kesekolah, aku tidak tau. padahal kita belum mempunyai hubungan layaknya hanya sebagai teman'.

Jum'at,
Bray mengajaku ke teman kota. entah rasanya aku ingin dandan secantik mungkin ! inikah jatuh cinta ? ah tuhan ! aku tak tau apa yang terjadi pada diriku ! lalu setelah aku sampai ditaman kota. terlihat Bray duduk di bangku itu. lalu aku duduk disampingnya. lalu Bray mengatakan perasaanya padaku. tanpa berfikir lama ku balas perasaanya, dan sekarang kami layak dipanggil 'kekasih'

Sabtu,
Malam-malam Bray mengajakku lagi ke taman kota. tanpa kupikir panjang, kuterima ajakannya. setelah sampai. Bray menceritakan semuanya kepadaku. aku sedih mendengar ceritanya. ini adalah malam yang terahir aku dan Bray. "Sebab itu aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu" kata Bray padaku. Bray divonis penyakit. dan hidupnya hanya 6 bulan. dan besoklah ke 6 bulannya itu. aku dan Bray saling menyayangi. aku tak ingin Bray pergi..... kuhabiskan malam-malam terahirku dengan Bray. kami berpadu bibir dengan bibir. bibir yang lembut menemaniku di malam itu............ lalu Bray mengantarkanku pulang .

Minggu,
Aku pergi ke rumah Bray, disitu banyak orang. Bray menghebuskan nafas terahirnya. aku hanya bisa bersedih, berdoa, agar Bray tenang disana. sandainya waktu itu bisa diulang. dan menghabiskan waktu 'satu minggu bersamanya' dan dimulai dengan aku menabraknya waktu di koridor.

DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2013/01/cerpen-cinta-romantis-satu-minggu.html#ixzz2pQs7TtTB

KENANGAN INDAH DI POHON MANGGA

KENANGAN INDAH DI POHON MANGGA
Karya Nining Septia
Siang ini terlihat sangat mendung. Awan tak seputih kapas. Udaranya mendung namun hawanya sangat panas.
“sungguh aneh dan tak biasa.” pikir ku dalam hati.

Ku tatap kembali pohon dibelakangku yang kini menjadi tempat berteduh RACHEL LOVE VREDO .
“aahhh....aku kangen banget sama kamu Do” aku memandang nama ku dan nama Vredo yang dihiasi ukiran berbentuk love di tengahnya. Yah Vredo adalah kekasih ku, kekasih yang sangat aku sayangi. Dan aku sedang menunggu nya dibawah pohon mangga yang ada di tepi danau ini. Pohon cinta yang menjadi saksi terjadinya cinta ku dan Vredo.
“Aell..” sebuah suara yang terdengar sangat riang memanggil nama ku. Ku alih kan pandangan ku pada arah suara itu dan ternyata dugaan ku benar itu adalah suara Vredo kekasih ku.
“Vredo...”aku berlari menghampiri Vredo di pinggir jalan, Vredo pun ikut menghampiri ku setengah berlari.
“aku kangen kamu Do” aku memeluk tubuh Vredo dengan erat. Vredo pun membalas pelukan ku dengan penuh kasih sayang dan rasa rindu yang mendalam.
“aku juga kangen kamu Ael. 1 minggu serasa 1 tahun bagi ku, aku bener-bener kangen sama kamu cantik, sama wajah kamu dan sama kecerewetan kamu.” kata Vredo sembari mencubit kedua pipi ku dengan perlahan dan penuh kasih sayang.
“oh yah bebh aku punya sesuatu untuk kamu,semoga aja kamu suka yah.” kata Vredo sembari mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya.
“untuk aku? Apa itu beb?” tanya ku kegirangan.
“tarraaaa.....” seru Vredo sembari menyodorkan kotak kecil berwarna pink yang dihiasi pita berwarna ungu muda dan memberikanya kepada ku. Aku membukanya secara perlahan dan ternyata itu sebuah kalung dengan liontin love agak besar menggantung ditali kalung berwarna perak itu. Ku buka liontin yang berbentuk hati itu, dan nampaklah wajah ku dan wajah Vredo.
“woowww...lucu banget...makasih yah beb.” Aku memeluk vredo lagi. Aku sangat senang bisa ketemu Vredo, setelah 1 minggu kita tak bertemu, karena terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Apalagi kita sebentar lagi ujian, dan karena aku dan dia berbeda sekolah. Jadi jika kita ingin bertemu harus mencari waktu yang tepat. Hubungan ku dan Vredo sudah berjalan hampir 3 tahun. Kita pacaran sejak 1 SMA, Vredo adalah teman SMP ku. Aku sudah tertarik pada Vredo sejak pertama masuk SMP. Tapi Vredo resmi jadi pacar ku saat kita sudah SMA. Dia menggajak ku ke danau ini dan di bawah pohon mangga inilah dia menembak ku. Yah pohon mangga ini lah yang menjadi saksi perjalanan cinta ku selama 3 tahun. Dalam keadaan apapun,baik senang apapun susah aku selalu bertemu disini mencurahkan semua perasaan kita.

Aku dan Vredo bukanlah anak dari keluarga yang mampu, boleh dibilang kita berasal dari keluarga yang sederhana. Tapi itu semua tak menghalangi rasa sayang ku kepadanya karena selain baik dan manis dia juga pintar. Untuk masuk SMA pun dia tak perlu memikirkan biaya sekolah, karena sewaktu SMP dia selalu mendapat rangking 1 dan tentulah ia mendapat biasiswa untuk bersekolah disalah 1 SMA terfavorit dijakarta.
“Ael kamu pakai terus yah kalung ini jangan sampai hilang.” Kata Vredo membuyarkan lamunan ku. Akupun hanya tersenyum manis sembari terus memandangi liontin itu.
“sini biar aku pakai kan.” Sembari memakaikan kalung itu dileherku.
“kamu terlihat lebih cantik pakai kelung ini,aku makin seyang sama kamu, aku harap kamu bisa jadi pertama dan terakhir ku. I LOVE U SO MUCH HONEY.” kata Vredo sembari mengecup kening ku dengan mesra.
“yah pasti itu beb, I LOVE TOO SO MUCH.” Balas ku.
“oh yah kamu udah makan belum? Kita makan yuk.”ajak Vredo pada ku.

Setibanya di kafe yang jarak nya tak jauh dari danau itu. Vredo pun memesan makanan untuk ku dan dia. Sedang asik-asik nya kita menikmati makanan itu tiba-tiba “KEBAKARAN-KEBAKARAN” ada seorang karyawan kafe tempat kami sedang makan siang berteriak histeris.
“kebakaran ?” aku yang masih binggung dan tak percaya,langsung ditarik oleh Vredo.
“ayo cepat pergi dari sini!.” Vredo menarik ku dan menggenggam tangan ku dengan erat. Asap semakin tebal dan api terus menjalar kesetiap ruangan. Aku dan Vredo telah berhasil menyelamatkan diri disebrang kafe. Vredo masih menggenggam erat tangan ku. Keringat dingin yang berasal dari tanganya mengalir perlahan ketangan ku. Tiba-tiba ada seorang nenek berteriak minta tolong. “cucuuu ku.”nenek itu berteriak parau sambil menangis menjerit. Vredo dan aku menghampiri nenek itu.
“ nenek kenapa ? cucu nenek masih didalam ?” tanya Vredo pada nenek itu.
“yah cucu nenek masih didalam, tolong dia nak,nenek mohon.” Ucap nenek itu sambil beruarai air mata. Vredo melepaskan genggaman tanganya pada tangan ku dan hendak berlari namun dengan cepat aku meraih tanganya dan menahanya.
“kamu mau kemana beb?” tanya ku yang panik karena sudah bisa menebak maksudnya.” Aku yakin kamu tau. Plis beb aku pasti bantu anak itu.” ucap Vredo sambil melepaskan secara perlahan tangan ku.
“enggak...enggak boleh bahaya beb. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa?” aku terus menarik tanggan Vredo.
“beb kamu gak kasihan sama nenek itu kalau bukan aku yang menolong siapa lagi? Semua sibuk menyelamat kan diri sendiri.”
“kembali lah untuk ku beb.” ucap ku akhirnya. Aku melepaskan genggaman ku Secara perlahan.
“aku sayang kamu beb.” Vredo mengecup kening ku sembari berlari kedalam kafe yang hampir habis terbakar api semakin membesar. Sedangkan pemadam kebakaran tak kunjung datang.
“ya ALLAH selamatkan Vredo.” Doaku dalam hati. Selama 5 menit tak ada tanda-tanda Vredo keluar. Tak lama berselang terlihat sesosok gadis kecil berlari sembari menangis terisak-isak ketakutan. “cucuku akhirnya selamat, kamu gak papa kan?” tanya nenek itu pada cucunya dengan penuh rasa khawatir. Akupun langsung menghampiri.
“dik dimana kakak yang menolong kamu tadi.?”tanya ku penasaran.
“ada didalam kak, dia gak bisa banggun kak, aku disuruh lari jadi aku lari keluar.” ucap gadis itu. “gak bisa bangun? Maksud kamu apa?” tanya ku yang masih binggung. Aku mempunyai firasat buruk seakan paham akan jawaban dari pertanyaan yang ku tanyakan dari raut wajah muram gadis kecil itu.
“kakak itu tertimpa kayu kak, badanya ikut terbakar kayaknya. Aku lupa, karena aku langsung disuruh lari sama kakak itu.” Jelas gadis kecil itu. Butiran bening air mata ku langsung jatuh membasahi kedua pipi ku. Hati ku terasa tersayat, dan jantung ku terasa dihujam ribuan pisau.
“Vredoooo....” aku berteriak dengan sekuat tenaga yang aku punya. Aku merasa tubuh ku akan terbang, pandangan mataku mulai kabur. Aku mencoba berdiri tapi tubuh ku malah ambruk dan semua jadi terasa sangat gelap.

Saat aku tersadar aku telah berada dirumah sakit bersama orang tua ku. “sayang kamu udah sadar?kamu gak papa kan?” terlihat wajah mama ku yang cemas bercampur panik. “aku gak papa kok ma.” Jawab ku masih memandang sekeliling ku. “bener kamu gak papa?” tanya papa meyakinkan ku. Aku hanya menggelengkan kepala ku. Sesaat kemudian aku teringat akan Vredo. “Vredo..” guman ku sambil beranjak bangun.
“kamu mau kemana sayang?” mama dan papa ku membantu ku untuk bangun. “Vredo ma,keadaan Vredo gimana?”. “Vredo,memangnya kenapa dengan dia sayang?” tanya mama tampak bingung. “Vredoi terjebak di kafe itu!” aku mulai menangis histeris. ”aku harus mencari Vredo!” aku beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan kamar rawat ku. “Ael kamu mau kemana?” ku dengar suara mama yang panik, namun aku tak menghiraukanya. Aku terus berlari menyelusuri lorong rumah sakit sambil berlari dengan beruarai air mata.
“Aell..” terdengar suara seseorang memanggil ku. Ku paling kan wajah kuketempat suara itu berasal. Dan betapa terkejutnya aku,saat ku sadar ternyata itu adalah Vredo. “Vredo..” aku langsng memeluk Vredo dengan erat. “kamu kenapa nengis beb?” suara Vredo terdengar seperti biasa, tak ada yang beda.
“kamu gak papa kan beb?” aku mulai membelai wajah Vredo mulai dari rambut,telinga,dan kedua pipinya yang lembut hingga bahu dan kedua tanganya. “aku gak papa, kamu jangan nangis lagi ya? aku sayang kamu beb. I always in your heart.” Vredo mengecup keningku. Aku terpejam. Kurasakan sensasi yang aneh di hati ku. Entah kenapa kali ini kecupanya terasa begitu dalam dan dingin.
“kak Ael..” teriak seseorang dengan suara nyaring. Suara yang masih kanak-kanak. Aku langsung menoleh kearah suara itu. “kakak ngapain disitu.?” Tanya seseorang yang adalah gadis kecil yang ditolong Vredo. “kok kamu tau nama kakak sih? Dan ngapain kamu disini?” tanya ku heran. “aku lagi nyariin kakak.” jawab gadis kecil itu. “cari kakak buat apa?” aku merasa semakin binggung dan aneh. “kakak kenapa ada disini?” gadis kecil itu bertanya lagi kepada ku. “aku lagi sam Vree,”suara ku terhenti sesaat aku menoleh ke temapat Vredo berdiri tadi. Dan aku tlah menemukan Vredo tak ada lagi.
“Vredoo..Vredoo..”aku menyelusuri lorong rumah sakit sembari memenggil nama Vredo. “kak Ael ,kak Vredo udah gak ada.” Ucap gadis itu sambil berlari ke arahku. “maksud kamu apa?”aku menatap tajam gadis itu. “ayo kakak ikut aku.” Gadis kecil itu menarik tangan ku dan menggandengku menuntun kearah sebuah ruangan. Ada 2 oang polisi sedang berdiri di pintu ruangan itu. Aku membaca nama ruangan itu dengan ragu. “ka...mar..ma..yat.” seketika aku langsung mengundurkan langkah ku menjauh dari ruangan itu. Dengan perasaan takut dicampur ragu, aku bertanya pada gadis kecil itu. “mau apa kita kesini?” tanya ku dengan ragu pada gadis itu. “katanya kakak mau ketemu ma kak Vredo.” jawab gadis itu. ”tidak...gak mungkin Vredo ada di dalam.” teriak ku histeris sembari berlari kedalam ruangan itu. Dan aku melihat didalam hanya ada 1 mayat,dan itu mayat Vredo. Kubuka kain penutup wajah Vredo. Terlihat wajah yang pucat dengan luka bakar di sekitarnya. Ku kecup kening Vredo dengan berlinang air mata. Aku teringat ketika Vredo mengecup kening ku saat hendak menolong gadis kecil itu, mungkin itu kecupan terakhir Vredo buat ku.