Welcome To My Blog

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,Gifo di kampus............................

Nursiang,Nurfayana Amir,Hermawati,Adeirma Suryani

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

text goyang

Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sahabat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Januari 2014

AKU CINTA SAHABATKU

AKU CINTA SAHABATKU
Karya Dewi Kartika Melina

Angin sore menerpa wajahku yang sedang asyik-asyiknya melamunkan hal yang ga tau kenapa bisa aku lamunin. Hal ini tuh udah bikin aku galau belakangan ini. Ya, apa lagi kalau bukan jatuh cinta. Jatuh cinta udah ngebuat aku kaya orang bego.

Tiap kali aku makan, wajah dia tuh selalu muncul, ngebayang-bayangin tiap langkah aku ke sekolah, dia tuh bagaikan bintang untukku, slalu nemenin tokoh 'aku' dalam mimpi aku. Sebenernya sih dia tuh temen chattingan facebook aku, dia tuh slalu ada kalau aku lagi sedih, ada masalah, juga kalau aku seneng, dia slalu ada buat jadi tempat berbagi kesenangan.
"Braakkkk!" suara itu kedengaran amat menyeramkan, dan setelah kusadari, ternyata aku terjatuh dari ayunan yang sedang kunaiki. Ya ampun, aku ngelamunin dia lagi... Apa yang terjadi sama aku? Masa aku baru aja ngelakuin hal bego kaya gitu? Hal yang mungkin ngebuat orang lain ngakak di atas penderitaanku.
"Awww.... Sakit banget kaki aku..." sebenarnya aku tau di taman ini ga ada orang lain selain aku, tapi kok aku ngerasa ada suara ketawa yang kejam? Hiiyyy, jangan-jangan.......
"Huaaaa", aku berteriak kencang saking kagetnya. Baru kali ini aku denger suara hantu, ternyata suaranya tuh kaya manusia banget yah.
"Ya ampunnn, ini Kayla? Ahaha, aku ngga nyangka banget bisa ketemu kamu di sini, Kay", kata suara itu. Haaaaa..... Salah apa aku bisa ketemu hantu di sore hari yang indah ini, ternyata hantu itu serba tau yaaa, masa dia juga tau nama aku, terus ya iya dia seneng bisa ketemu manusia bernama Kayla ini di taman terus nakut-nakutin dia, sementara aku...?
'Tuhan tolongin aku Tuhan, bawa aku ke tempat yang aman, ke atas pohon boleh deh, asal aku ga usah ngeliat ni hantu gitu, ngga usah tatap muka sama diaaa.... Aku takut hantu....', doaku dalam hati. 
Aku Cinta Sahabatku
Tapi kayanya itu cuma jadi mimpi soalnya aku masih di bawah pohon, di deket ayunan kuning ini.... Suara langkah kaki itu semakin deket lagi...
"aaaaaaa, jangan bunuh aku, mas hantu, aku masih belom punya pacar, masih banyak dosa sama mama sama papa... Pleaseee dong mas hantu, biarin aku hiduppp", teriakku sejadi-jadinya. "Hahahahaha Kaylaa-Kaylaa... Kamu tuh yaa ngga di dunia asli, ngga di chat, sama aja: PENAKUT! Hahaha, ini aku, Mike..." kata suara itu... 'Mike siapa' kataku dalam hati.... 'Mike??? Hah, cowo itu? yang sedari tadi aku pikirin? Cowo yang ngebuat aku jatuh memalukan dari ayunan? hahaha, ngga mungkin ah', kataku sembari membalikkan tubuhku ke arah suara itu berasal. Hwaaa, wajah itu membuat hatiku bergetar hebat.

Ternyata itu beneran Mike ya Tuhan! Seketika lidahku tak bisa berkata-kata, 'kenapa lidahku kelu tiap kau panggil aku', gitu kalo kata sm*sh! aduh apa apan aku ini, di saat seperti ini aku masih bisa mikirin boyband asal Bandung favoritku itu... kembali lagi dong ke dunia nyata. "Hah, kamu beneran Mike?" kataku, memandang wajah dia yang berdiri di sebelahku sambil mengulurkan tangan, membantuku berdiri.
"Ya iyalah emang kamu mikir aku ini hantu yang tau nama kamu? Hahaha", kata Mike seolah dapat membaca pikiranku. "Hehehe, ya kirain sih", kataku, menyambut uluan tangannya. Baru kali ini aku melihat wajah aslinya, ternyata lebih cakep dari fotonya, ngebuat hati aku cenat cenut.

Kami mengobrol banyak di taman sambil menikmati matahari yang dengan malu-malu ke tempat asalnya. Senja itu, aku benar-benar ngerasain apa yang namanya indahnya jatuh cinta. Setelah mengobrol begitu lamanya, kami berpamitan, oiyah sekarang aku tau, dia pindah ke blok sebelah rumah aku. Aku jadi tetanggaan sama dia, senangnya :D. Kami lalu pergi ke rumah Mike untuk Mike kenalkan sama keluarganya yang sering dia ceritakan di chat ym ke aku.

Mike pindah dari Jakarta ke Bandung, katanya sih papanya tugas kerja di Bandung. Dia tinggal sama keluarganya, yang barusan dia kenalin ke aku, Oom Anwar, Tante Rosa, dan adik perempuannya yang cantik, Mary. Mike sekolah di sekolah yang beda sama aku. Hari-hari berikutnya kujalani dengan senyuman yang menghiasi wajaku, menganggap bahwa semua hal buruk di dunia ini takkan berarti apa-apa bagiku, asal aku bisa liat wajah dia, wajah Mike setiap hari...

Sekarang Mike sudah menjadi sahabatku yang selalu ada di sampingku tiap aku ada masalah, dia selalu ngehibur aku.Semuanya jadi indah, sampai pada suatu hari, dia cerita ke aku tentang seorang cewe yang udah ngebuat hati aku sedih. Mike suka sama cewe itu, dan akhirnya setelah 3 bulan PDKT atau pendekatan, mereka jadian.

Aku ngga kuat kalo harus terus begini, aku harus ngomong sama Mike tentang perasaanku sebenarnya, sebelum aku dibuat gila sama perasaan cinta sama sahabat sendiri. Bahkan, sebelum kami sahabatan, cuma sebagai temen di dunia lain selain dunia nyata, yaitu dunia maya, yang ga pernah tatap muka sebelumnya, aku udah suka sama dia... Ya, kalo perasaan ini terus-menerus dipupuk kaya gini, apalagi dengan sikap baik bangetnya itu, sikap perhatian itu, aku ngga mungkin ngga cinta sama dia... Rasa cinta ini terus menerus tumbuh, semakin besar dan semakin besar. Kalau aku ngga ngomong, bukannya aku seneng, tapi malah tersiksa sama perasaan ini. Sampai pada suatu sore yang cerah, saat kami sedang ngobrol di taman kompleks sambil menatap awan yang terus menerus bergerak, aku menceritakan semua tentang isi hatiku, apa yang aku rasakan sama dia, dari kapan perasaan itu muncul, dan berbagai macam kalimat lain yang gatau kenapa langsung meluncur dari lidahku. Aku juga heran kenapa dia ngga kaget sama apa yang aku katakan.

Dia tetap tersenyum manis sambil mendengarkan aku bicara tentang perasaan terlarang ini. Setelah selesai semua beban di hatiku ini. "Mike, kok kamu malah senyum-senyum sih? Emang sih ceritaku tuh novel banget, tapi harus kamu tau, ini tuh kejadian sebenernya!", kataku.
"Ngga kok, Kay, aku seneng kamu mau jujur sama aku, aku seneng kamu mau jadi the one yang mau tulus cinta sama aku... Ehm, sebenernya aku malu banget ngomong ini sebenernya. Aku juga suka sama kamu, Kay. Dari kita ketemu di chat ym, aku juga udah suka sama kamu, aku berusaha supaya jadi yang terbaik buat kamu. Tapi aku udah putus harapan, soalnya kamu tuh ngga ngasih respon ke aku", jelas Mike.
"Hah? Kalau kamu juga suka sama aku, kenapa kamu jadian sama Lila? Kenapa kamu malah ngebuat hati aku tambah sakit, Mike setelah aku tau kejadian yang sebenarnya."
"Sebenernya, Lila yang aku ceritain ke kamu itu, dia adik aku, aku cuma mau tau, apa kamu cemburu sama Lila atau ngga. Ternyata kamu cemburu yah, hehehe", canda Mike, tapi aku kira ini janggal dan ngga lucu! "Mike, bukannya adik kamu namanya Mary? Kok kamu ganti jadi Lila sih?", tanyaku penasaran.
"Yah, namanya kan Delila Mary Wijaya, nama belakangnya sama kaya aku: Michael Stefan Wijaya. Hehehe, maaf banget kalau aku udah bohongin kamu, Kayla."

Mike membuat aku yang tadinya kesal bercampur senang merasa sedikit tenang.
"Jadi?" kata Mike. "Jadi, apa aku boleh jadi cowo yang bisa ngelindungin kamu, Kay?", sederhana, tapi udah buat aku melambung tinggi, bagai terbang di atas awan.
"Aku mau, Mike jadi cewe yang bisa ngertiin kamu", jawabku sambil tersenyum. Kami baru saja jadian dan aku sangat senang akan hal itu. Menikmati senja di dekat ayunan tempatku pertama bertemu dengan Mike, dengan suasana yang sama: langit senja berwarna merah keunguan membuat hatiku tentram. Ternyata, sahabat juga bisa jadi cinta.

KAKAKKU SAHABAT TERBAIKKU

KAKAKKU SAHABAT TERBAIKKU
Karya Melinda S. Rini
Indri dan Rindi
Kami terlahir sebagai kakak beradik dalam sebuah keluarga sederhana penuh kasih sayang. Indri berusia satu setengah tahun lebih muda dariku. Karna usia kami yang tak jauh beda. Orang-orang agak sulit membedakan kami. Terlebih sejak kecil Ayah dan Ibu sering memakaikan baju yg sama dan memilih potongan rambut yang sama.

Tapi setelah kami mulai beranjak dewasa Ibu sudah mulai tidak memakaikan baju yang sama karena kami berdua sudah mulai mencari jati diri kita masing-masing. Indri suka bergaya lebih feminim sementara aku lebih suka bergaya casual.
Kakakku Sahabat Terbaiku
Sejak TK aku selalu di sekolahkan yang sama tapi semenjak aku masuk SMA, aku menolak tawaran Ayah dan Ibu untuk masuk sekolah yang sama dngan Indri. Aku jengkel bila satu sekolah terus dengan Indri.
Indri dan aku mempunyai minat dan cita-cita yg berbeda. Indri bercita-cita ingin menjadi seorang Ilmuwan yang sangat hebat sementara aku lebih ingin menjadi seorang jurnalis karna suatu saat nanti aku ingin mencatat kejadian yang hebat di dunia.
*****

"Rin ada seorang cowok disekolah ku yang ingin mendekati ku," ujar Indri sambil tersenyum malu.
"Bukankah itu sudah biasa? Setiap minggu kamu selalu bercerita tentang seorang cowok.Aku capek mendengar ceritamu yg itu-itu saja," kataku sinis, pikiranku tertuju pada layar laptopku yang sedang mambaca artikel tentang pengalaman hidup seorang penulis yg hebat di dunia.
"Tapi yang ini lebih baik."
"Cukup. Aku capek mendengar ceritamu. Aku lebih suka kalau kamu bercerita tentang seorang penulis terkenal tapi berhubung kamu nggak tau apa-apa tentang dunia jurnalistik jadi lebih baik aku mencarinya sendiri lewat internet." jawabku sinis. Aku mendengar helaan nafas Indri. Mungkin dia jengkel mendengar jawabanku yang sinis.
"Baiklah, aku minta maaf kalau membuat marah dan jengkel. Kalau begitu aku pergi tidur saja." kata Indri sambil pergi menuju tempat tidurnya.
"Itu lebih baik daripada kamu menggangguku."
*****

Jam 8 malam, aku pulang telat karna aku ada rapat OSIS disekolah. Sekolahku akan mengadakan Pensi. Setiap tahun sekolahku memang selalu mengadakan Pensi dan karna Pensi sekolahku berjalan dengan baik, sekolah ku makin terkenal.
"Dari mana saja kamu,Rin?" tanya Ayah yg sepertinya sejak dari tadi menungguku di ruang tamu.
"Dari rapat OSIS,yah. Aku kan sudah bilang ke Ayah tadi pagi." kataku mencoba membela diri.
"Makin lama Ayah lihat rapat OSIS kamu nggak ada gunanya." kata Ayah lagi
"Ayah selalu berbicara seperti itu. Ayah nggak pernah mendukung semua kegiatan yang aku lakukan."
"Rindi,dengarkan nasihat Ayahmu. Ayah menasehati mu seperti itu karna demi kebaikanmu juga." tiba-tiba Ibu ikut bicara juga.
"Rin,ingat semester lalu nilai-nilai belajarmu sangat menurun. Ayah akan mengijinkan hal-hal yg kamu suka tapi kamu juga harus imbangi dengan cara belajarmu. Coba kamu lihat kakak perempuanmu,Indri." kata Ayah mulai membanding-bandingkan.
"Atau sebaiknya kurangi kegiatan outdoor mu dan fokus dengan belajar seperti Indri." Ibu juga mulai membanding-bandingkan. Mendadak kepala ku menjadi pusing. Aku paling tidak suka kalau dibanding-bandingkan dengan Indri. Aku mengambil tasku dan langsung pergi menuju kamar.
"Ayah dan Ibu nggak bisa membatasi semua kegiatan yang aku suka." kataku sambil pergi meninggalkan Ayah dan Ibu.
*****

Aku membanting pintu kamar dan mengagetkan Indri yg sedang melakukan percobaan-percobaan yang selama ini memang dia lakukan. Melihat ekspresi wajahku yang kurang enak, Indri pun langsung menyudahi percobaan-percobaan kimianya.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya? Pura-pura nggak tau lagi, kamu senang kan aku dimarahi Ayah dan Ibu habis-habisan!!" Indri pun melihat ke arah jarum jam tangan yg sudah menunjukkan pukul 8 malam, kemudian dia kembali melihat ke arah ku dan dia tersenyum.
“karna kamu pulang malam? Hmm,rin. Ayah dan Ibu itu sebenarnya memarahimu karna mereka khawatir dengan keadaanmu, apalagi kamu cewek. Mereka juga ingin kamu imbangi dengan belajarmu , kalau kamu bisa imbangi sekolah mu dengan kegiatan yang kamu lakukan pasti mereka akan.....”
“Sudahlah, nggak usah nasehati aku. Aku lebih tau apa yang harus aku lakukan dan apa yang nggak aku lakukan.” aku memotong pembicaraan Indri. Indri hanya tersenyum.
“Urus saja tuh percobaan-percobaan kimia mu biar jadi Ilmuwan hebat dan nggak akan pernah ganggu aku lagi.”
“Terima kasih telah membuat aku semangat untuk menggapai cita-cita mu.” kata Indri. Aku kaget ternyata dia menanggapi perkataan ku yang kasar dengan senyuman dan berbicara dengan lembutnya.
*****

Hari-hariku terus di sibukki oleh seluruh persiapan Pentas Seni Sekolah. Apalagi jabatanku sebagai ketua acara yang sangat penting untuk memastikan semua akan berjalan dengan lancar. Indri sibuk mempersiapkan olimpiade yang akan diikutinya. Entah itu pagi,siang,ataupun malam,Indri selalu sibuk dengan semua percobaan-percobaan kimianya. Hingga suatu hari waktu aku sedang santai dia menghampiriku di tempat tidurku.
“Rin,minggu depan adalah olimpiade yang sangat aku tunggu-tunggu dan aku mengikuti olimpiade tersebut . Dan aku sangat berharap kamu bisa datang di olimpiade kimia ku untuk mendukungku.”
“Sorry,minggu depan adalah Pentas Seni Sekolahku, jadi aku nggak bisa datang di acara olimpiade mu.” Aku nggak nyangka Indri tersenyum mendengar jawabanku,
“Pentas Seni dengan kamu sebagai ketuanya ya. Pasti akan sukses besar. Aku do’akan supaya acara itu berjalan dengan lancar. Kalau begitu aku pergi ke tempat tidurku.”

Baru saja Indri berdiri dari tempat tidurku dan beranjak ke tempat tidurnya tapi tiba-tiba dia kembali melihat ke arah ku,
“Apa lagi sih?” tanyaku dengan sinis
“Aku hanya ingin bilang ...melihat dirimu,aku seperti melihat diriku sendiri.Wajah kita sangat mirip.Andai kamu bisa sedikit lebih terbuka,mungkin kita akan bersahabat,dan selamat malam.”
*****

Hari ini adalah hari pelaksanaan Pentas Seni sekolahku. Sejak pagi aku sudah pergi dari rumah menuju lokasi acara dan memantau semua persiapan. Untunglah acara yang aku pimpin sepertinya akan berjalan lancar. Tiga ratus tiket terjual habis dalam jangka waktu dua hari. Hari sudah mulai gelap,orang-orang mulai memenuhi antrean pembelian tiket untuk dapat masuk ke dalam Aula pentas seni sekolahku. Aku melihat pemandangan itu dengan rasa puas dan senyum penuh kemenangan.

Aku sadar handphone ku bergetar terus,tapi karna kesibukanku aku mengabaikannya. Tak lama,aku mengambil handphone ku di dalam tas. Nama Indri tertera di layar ponsel ku. Ternyata dia sudah mencoba menelponku sebanyak 12 kali dan mengirimkan 4 pesan singkat untukku. Setelah membaca pesan tersebut,tiba-tiba dadaku menjadi sesak. Aku merasa bersalah dengan Indri. Yang aku inginkan sekarang adalah bertemu Indri,kakak perempuanku yang aku sayang.
*****

Hai Rindi,bagaimna acara sklh yg kmu pimpin?Aku yakin pasti sukses&berjalan lancar. Oh ya, mngkin kamu tak ingin mndengar cerita ku,tpi aku sngt ingin sekali memberitahukan kamu. Aku mendapat juara dalam olimpiade kimia tingkat nasional. Percobaan yang aku tampilkan ke semua juri ternyata membuat mereka bangga. Dan kamu tau? Aku berhasil mndapatkan beasiswa melanjutkan kuliah di Negeri Kincir Angin! Dan aku berangkat lusa.
*****

Sepanjang perjalanan,aku merasa sangat bersalah. Aku menyesal selama ini,aku selalu menganggap Indri adalah orang yang sangat menyebalkan. Dia selalu berusaha untuk mendekatiku sementara aku semakin menjauhinya. Tapi kini aku sadar,aku mulai merasa kehilangan ketika dia mengatakan kalau ia akan pergi jauh meninggalkan negara ini. Adik macam apa aku ini sampai nggak tau kalau selama ini kakak perempuanku sedang mengurus beasiswanya di Belanda.

Akhirnya aku sampai di tempat tujuanku. Aku melangakah masuk ke dalam sebuah tempat perlombaan tingkat nasional. Disana aku melihat seorang gadis cantik sambil tersenyum senang,matanya memandangi seluruh juri dan penonton yang melihatnya. Hingga akhirnya kedua mata kami bertemu.
*****

Di depan layar laptopku,aku membaca e-mail yang dikirimkan Indri ke aku. Dia sangat senang di sana, karna dia berteman dengan sebagian anak muda dari beberapa negara yang ingin menjadi ilmuwan hebat. Akhir tahun nanti Indri akan pulang ke Indonesia. Ahh,Indri cepatlah pulang aku sangat rindu kepadamu dan aku ingin mendengar semua cerita-ceritamu.

DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2013/05/kakakku-sahabat-terbaiku-cerpen.html#ixzz2pQxS6PRN

CINTA DALAM HATI SAHABAT

CINTA DALAM HATI SAHABAT
Karya Ardana

Aku cwok 21 tahun, cwok yang penuh semangat dan penuh harapan, walau terkadang keras kepala juga... Aku mahasiswa baru disebuah universitas swasta di denpasar. Hari pertama ngampus, menyenangkan bisa dapet banyak teman lucu. Dari seluruh pelosok bali, berkumpul dalam 1 kelas, hahaha lucu, logad buleleng berbicara disautin logad negaroa kemudian diterusin logad tabanan, hahaha ceria rasanya. Cewek pertama yang ku kenal di kelas namanya luhde, orangnya baik tapi sok kenal gtu, he. Hari – hari dikampus penuh dengan canda tawa, ya maklum semester 1 kan belum bgitu sibuk, jadi masih bebas tersenyum.

Hari – hari berikutnya ku mulai terbiasa berbaur dengan teman” .Untuk teman cewek luhde yang paling baik, dia itu asyik juga orangnya, dia juga suka belajar, jdinya kami semakin akrab. Kemudian aku kenal dua orang tmannya Desi yang periang dan Gex Sin yang cibi. Hari itu hari selasa, abis kuliah ku bergegas pulang, tapi ku mendengar suara dari belakang . “ arr tunggu..” . Ternyata itu suara luhde. Ku lihat dia jalan dari belakang, dengan rambut kuncir yang tertiup angin, berseri seri mukaknya, kayak ada bintang bintang di pipinya, senyumnya juga manja. Wow…hehe
Luhde: “ arr mm.. mf ganggu, kmu sibuk gk? Seandainyae kmu adae waktu aku pengen nanya nanya tntang materi akuntansi yang tadi” “ tapi klok kmu sibuk yae gk pa2” pngen nanya sebentar aja sii sebenernyae” hahaha dia berkata seperti gk mau maksa aku, tpi klihatan dari mukaknya berharap banget ku jelasin akntansi.he
Cinta Dalam Hati Sahabat
Sebenernya hari itu ku capekkk banget, ntar sorenya ku juga hrus latihan silat. Tapi melihat wajahnya yang polos dan logad bicaranya yang lucu, capekku jadi hilang. Kemudian ku ajak dia keperpus. Seperti biasa perpus rame dengan kakak kakak yang lagi setres bkin skripsi, ya biar gk mengganggu ku nerangin materi akuntnsinya dengan frekuesi rendah alias bisik bisik. “mana yang gk ngerti?”,tanyaku. Luhde : “mmm.. transaksi apae aja arr yang dicatat dalam akun pembelian?”, tanyanya dengan sdikit malu. “ yang dicatat dalam akun pembelian itu adalah transaksi pembelian barang dagangan saja, klok pembelian diluar barang dagangan, dia dicatat dalam akunnya masing2, seperti pembelian peralatan dicatat dlam akun pralatan”.Jawabku.
Saat itu, adalah pertama kali ku perhatiin wajahnya. “Cantik juga” kupikir. Wajah seriusnya dewasaa bngett, ku pikir, waah.. cwek ini pasti smangat bnget, kata-kataku pasti lagi dianalisis bener atau gknya, tapi ternyata dia gk ngerti, haha, hadehhh…

Ya maklumlah pas SMA dia kan anak IPA. Sejak saat itu kami semakin akrab.. Kami sering ngerjain tugas bareng, ku sering main kekosnya ngerjain tgas sama desi dan sintia juga, hehe mereka kayak trio macan slalu bersama. Yahh namanya juga cewek, sebelum ngerjain tugas pasti selalu rame. Ada aja yang digosipin, hahaha. Aku jdi lbih sering bergaul ma mereka ketimbang tman cwokku, wahh bahaya, bisa-bisa ku jadi bencong, ekee book.. Tapi gk lah!, ku kan tetep tegak, stay cool, he, ya paling terpengaruh menceng aja jadinya bicaraku, tapii emang dri kecil aku menceng siii haha, dibilang kayak cewekku ma kakakku.

Sempet suatu hari pulang kuliah, lode mz ku, minta bantuanku ngerjain tugas akuntansi dikosnya. Ya ku bilang klok ku dijemput kekampus baru ku mau, bensinku abis soalnya gtu ku bilang , padahal sebenernya bensinku masih full haha. Trus dia bls mzku, lohde : “ok arr tunggu sana ya!!!”. Lama ku nungguin , dia gk kunjung datang, mana prutku dah keroncongan lagi, trus datanglah desi yang dsuruh menjemput dengan rambut terurai, sambil senyum-senyum, desi: “dah lama ya? “
Ku jawab: “ gk lama sii, tapi cukuplah membuat, bdanku gosong.he,,. kmudian ku mnuju kekosnya lode tuk yang pertama kali. Waktu itu ngerjain soal akuntansi rasanya. Ada kejaian sial waktu itu. Pas lode diluar kamar kedenger dia brteriak, “ yee kuluknya bawa kaos,, iii kaos spa dibawa lari tuu?” ya aku gk begitu meratiin, karena ku lagi konsen buat jurnal. Trus pas mau pulang, aku pakek sepatu, loohh kaosku mana lagi satu?. Luhde : “kaosmu warna putih ya?.wahh tadi kuluk tuan rumah lari-lari sambil bwa kaos, kirain bkan kaosmu arr” desi : hahahaha, sintia : ado ado gen I ardanee…sampek sekarang kaos kaki yang satunya ku simpen pakek kenang kenangan, hehe.

Sering juga kami ngerjain tugas kelompok bareng, dari pagi smpek sore. Makan bareng dikos lode, saling curi mkanan hehe. Lucunya setiap kali pulang dari beli makanan, pasti mereka ribut ngurusin uang kembalian, dan mkanan yang dibeliin juga sering salah he. Tapi asyik kok, terasa kayak keluarga sendiri. Hhhmmm Waktuku kebanyaan sama lode, smpek sampek ku brantem ma pacarku gara gra mznya gk kubales karena keasian diskusi ma luhde, hehe. Ya bukan gmana2 sii, klok aku diajak diskusi akuntansi pasti selalu semangat terkadang smpek lupa waktu.

Kami juga sempet aktif di SEKOM UNWAR bntar. Trakhir kali ku jadi panitia bareng dia adalah pas PENGMAS di desa lebih. Itu adalah kepanitian yang lucu, banyangkan jumlah panitia ada 30 orang, sedangkan pesertanya cuman 20 orang, jadi yang banyak gabisin konsumsi adalah panitianya, hahaha. Gk lucu ya?. Ya anggap aja lucu
Lannjuttt….
Di pengmas itu ketika malam hiburan di wantialan desa lebih, aku melihat lode menangis, ku jadi penasaran apa yang membuat dia bersedih. Tapi ku belum berani mendekat, karena dia masih dikelilingi pengawalnya desi sintia sama anggota menwa yang anak hukum tuu, spa kden namanya lupaku. Kemudian pas sembah hyang kudeketin dia. “ kenapa geg? Kok nangis tadi?”
Dia hanya tersenyum, trus pengawal Menwanya bilang “ luhde lagi patah hati”..
“ tenang geg!,, masih ada aku kok” sapaku gombal.. Luhde : “emangnya ardanae mau nyentanae?” sautnya dengan maksain tersenyum, wajahnya nunjukin kesedihan tapi dia berusaha menyembunyikannya.

Kami juga pernah ikut kegiatan bakti social bersama di tanah lot. Waktu itu kami duduk berdua di biss, Ac bisnya dinginnn sekali, ku pkek jas biar lbih hngat. Kmudian dia brkata, luhde: “pinjemm jasnya, dingiin”, mintanya dngan manja. “ iya , pakek berdua yukk”. Ajakku malu-malu. “okeh”, jawabnya dngan imut. Perjalanan itu diiringi hujan gerimis, kmudian ada pelangi yang indah sekali, romantiss ya, hehe. Aku merasa nyamaannn… bnget disisinya, hatiku terasa hangat. Pas itu ku gk bnyak omong, malu soalnya, he. Tapi ku kok mrasa seneng bnget yaa, wah bahaya bnget nii klok ku sampek suka ma lode. Dia kan dah punya tunangan, aku juga udah punya adinda.

Waktu terus berlalu, banyak hal ku lalui bersamanya. Sampek suatu hari dia mutusin untuk ngajag dari rumahnya di Gianyar. Sejak saat itu kami mulai jarang bersama, paling ketemu di kampus aja bentar. Aku mulai merasa rindu, tapi kenapa ku harus rindu, diakan bukan siapa -siapa ku, pikirku. Di kelas ku sering nyuri nyuri mandangin dia, klok dah sempet mandangin wajahnya, tau dah,, apapun yang disampein dosen gk masuk ke otakku.
Anganku melayang, seakan hanya ada aku dan dia di kelas itu. Saat itu ku mulai sadar bahwa aku Jatuh Cinta pada luhde. Tapi aku masih diam, masih bingung dengan perasaanku dan masih bimbang dengan setatusku.

Beberapa minggu kemudian ku putus dengan pacarku. Untungnya lode slalu ada nemenin ku, nanya soal soal akuntansi atau diskusi plajaran yang lain, jdi ku gk mrasa sepi saat putus cinta. Apa yang kutakutkanpun terjadi, Hatiku terus berontak, bergejolak dan mendorongku untuk harus menyampaikan isi hati ku ke dia. Aku tau dia masih ada yang punya, tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku, sakitt banget rasanya mendam perasaan ini. Suatu hari aku , lohde , desi , sintia ngerjain tugas kelompok di kelas. Tugasnya nyari pengaruh investasi terhadap perekonomian Indonesia. Karena dikelas gk da wifi, trus ku ajak lohde nyari wifi di bale bengong deket kantin, sedangkan desi sama sintia ngerjain pendahuluannya di kelas. Kemudia kami berdua berjalan menuju bale bengong. Disana , dengan hati yang gemetar, ku berusaha nguatin diri tuk ngungkapin perasaanku
Aku: “geg”
Lohde : “iyae arr”
Aku : “ mmmmm, aku eeee
Luhde : “napae arr?”
Aku : “ eeee gimana menurutmu tentang yang kmarin?”
Luhde : “tentang apae arr?”
Aku : “tu mzku yang kemarin”
Luhde : “ hhhmmmm…. Yang manae tu?
Aku : sshhhhh, narik nfas. “Aku suka ma kamu!”
Luhde : “maksudmu?”
Aku : “ya, aku sayang ma kamu, berharap seandainya aku bisa jadi pacarmu”
Luhde : sshhhhshhshshhs ……………………………
Aku : “gimana geg?”
Luhde: “akuu….mmmm.. hhmm arr!! Aku gk tau harus jawab apa, ………. ku hanya lebih nyaman jika kita jadi sahabat aja arr,, jadinya kita kan bisa bersama selamanya, bisa seneg2 terus tanpa cemburu tanpa bertengkar”
Aku : …. Iya.., he

Dadaku terasa sesak. Ku berusaha tenang, namun telingaku terasa panas, dan mataku mulai memerah. Tak bisa berkata apa –apa. Hanya terdiam, tanpa kata. Keadaan di bale bengong itu mendadak sunyi.. dinginnn.. bngt, tak bisa bergerak lidahku terasa kaku.

Sejak saat itu luhde mulai jarang bls mzku, tapi ku tetep mz dia setiap hari. Walaupun mzku gk pernah dibales,, yahh gk pa2 ,, mungkin dia lagi sibuk, pikirku tuk menghibur diri.
Menjelang UAS smester 2, gex sin ngajakinku blajar barenng, waktu itu janjian di kelas GST pling pojok timur diruangan selatan. Saat itu ku dibawain banyak kue .lode bawainku kue warna hijau sebesar piring. Gex sintia sama desi juga ngasi, tmen2 yg lain juga. Gex sin : “sini duduk ar! Samping luhde!” aku hanya terdiam, aku gk brani duduk disampingnya, bkan karna ku marah, tapi karena aku takut . takut cinta itu akan semakin membunuhku. Mungkin karena sikapku yang jutek dan menyinggungnya, lode pergi pulang duluan, ninggalin kami. Aku ingin banget mengejarnya, tapi kakiku lemas, takut jika cinta itu membunuhku, ya biarlah dia prig hari itu.Pas akhir uas semester dua adalah akhir kesibukanku ngutak atik akuntansi 1, tapi hari itu juga awal dari kehancuranku. Saat selesai uang yang terakhir, lode bilang padaku
Luhde : “arr maafin aku..tapi aku mntak tolong pengertianmu arr.!! Tolong jangan mzku lagi! Ngertiin posisiku arr! Ar tau kan kondisi keluarku gimana? Ku ingin ngebahagiain ibukku arr””
Ku hanya terdiam, sesak rasanya, lidahku terasa kaku dan aku hanya terdiam………………
Ku berpikir, betapa jahatnya diriku!!! Betapa berdosanya aku!!!! Kasih sayangku malah membuatnya hancur…. Dia jadi renggang ma pacarnya dan sering diomelin ma ibuknya, semuanya gara-gara aku.
Aku begitu bingung, aku gk tau harus berbuat apa.. dan aku hanya terdiamm..

Kenapa ku harus Jatuh Cinta Ma dia?, kenapa ku harus sayang ma dia? Kenapa harus Dia?
Kemudian ku pulang dengan hati yang hampa, kakiku terasa berat melangkah mataku terasa berkunang kunang. Sampek di kos aku terbaring lemas, seakan masih belum percaya tentang semua yang terjadi hari itu. Mungkin benar, cinta memang tak harus miliki…, ,” dan bila semua tercipta tanpa harus ku merasakan semua yang tersisa, hampa hidup terasaa” ( peterpan ).” Sempet ku berfikir, tuhann percepatlah hari kiamat, biar kesengsaraan ini mati, dan berikan aku hidupp satu kali lagii hanya untuk bersamanya ( the virgin )

Liburan semester 2 terasa panjang, kembali muncul perasaan kangenku ma luhde. Sesekali ku nitip pesan di gex sintia, sekedar ingin tau gmana keadaanya . Gex sintia sangat baik, dia slalu mau jadi perantara menyampaikan pesan kangenku. Thank’s ftiend kmu slalu baik, moga tambah cibii. Liburan semester 2 berakhir.., naik ke semester 3 ada pembagian kelas. Ku dapet kelas DA sedangkan luhde dan sintia dapet kelas DU. Ku dibujuk tuk pindah aja kekelas DU. Saat itu diparkiran aku sintia desi sama sinta duduk diparkiran sambil nunggu Luhde. Kemudia dia datang, brsama dibonceng ma pacarna, aku hanya bengong melihatnya seraya berpaling muka” Betapa hancur hatiku ,, melihat engkau bersamanya”(kangen),
Aku bergegas duluan ke secretariat, “ gex sin aku duluan ya, mau pipis bentar” sebenernya itu hanya tuk nyaru’in telingaku yang mulai memerah. Akhirnya ku pindah ke kelas DU, kelas yang di sebut sebut sebagai kelas unggulan. Bener juga sii, banyak orang hebat di kelas DU. Kelas DU membuatku lbih rajin blajar, banyak dpet temen dskusi , yaa stidaknya bergunalah tuk semanagt blajar akuntansi. Namun kelas ini juga membuatku hancur di lain sisi.

Berat banget rasanya mataku mlihat lode, dan teriris sekali rasanya saatku berada di sampingnya.
Aku mutusin untuk menjauh darinya, mencoba melepaskan semua, melupakan semua dan membiarkannya bahagia. Aku menjauh, aku kan menghilang dalam pekat malam, lepasku melayangg, ( peterpan). Dan ini adalah awal kehancuran persahabatan kami. Aku menjauh bukan karna ku benci,, tapi karena ku gk sanggup menahan perasaan yang tak kunjung hilang, aku tenggelam dalam lautan luka dalam ( rumor). Aku lakuin berbagai cara tuk lupain dia. Aku mencoba deketin cewek, smpet pdkt 1 bulan tapi ku kalah saing ma anak teknik UNUD, katanya sii karna sifatku yang egois dan kekanak kanakan makanya aku di tolak, trusss ya kembali lagi ku inget ma lode. Ku belum menyerah sampai sana, ku pdkt lagi sama cewek dari nusa dua, katanya peluang aku dierima udah 90 %, brsemanagt aku “ waahh moga ja cwek ni bisa mmbuatku lupa ma luhde”, walaupun sbenernya aku gk srek ma cwek itu ya bisalah dijadiin pelarian tuk lupain lode. Tapi semuanya berbalik 180 derajat, ternyata malah aku yang dijadiin pelarian, “waaahhhh siiiaaaallll, pdahal dah bulak balikku capek capek ke nusa dua, hadehhhh”

Akuuu pulaaangggggg, tanpaaaa dendammmmm, ku terimmaaa kekalahaaaankuuu ( sheila on 7)
Kembali lagi pikiranku mengarah pada luhde, ku denger dia udah putus dengan pacarna, dan ku berharap bisa ngejar ngejar dia lagi, tapi sungguh terkejutku ketika dia udah jadian lagi sama tmenku, aku lemas…., aku terdiam….trus ku Tanya dia lwat HP
Aku “ geg bneran yak mu dah jadian ma temenku”
Luhde : “mang itu penting ya buat kamu?”
Aku : “ ya gk sii, klok gk mau jawab juga gk pa2”
Luhde : “ kenapa mangnya?” klok iya kenapa “ “klok nggak juga kenapa?”
Aku : gk sii, aku cuman pengen tau aja
Luhde : “hmmm arr… maafin aku, iya aku jadian ma dia, tapi walaupun aku jadian ma dia, kita masih bisa bersahabat kok, klok kamu mau”.
Aku :” yah aku mendukung geg, tapi berjanji padaku, jangan pernah sakitin dia untukku, jika geg nyakitin dia, berarti geg telah nyakitin pengorbananku juga.
Luhde: “ kok kamu ngomongnya gitu?”
Aku : . eee akuu, mmm…. Aku slalu sahabatmu, mungkin aku hanya sedikit terluka, kenapa harus temanku? Kenapa harus 1 kelas?. Tapi ya udahlah, ku yakin lukaku kan sembuh suatu saat nanti”
Luhde : “aku gk bisa jawab apa2 arr.., tapi ku yakin kmu akan cepet sembuh arr, karna ku tau kmu cwok baik, coba aja tuk membuka mata, membuka hatimu tuk cewek lain yang lebih sempurna dariku” maafin aku arr..

Malam itu begitu dingin, perasaanku begitu hampa, ku terdiam sepi sendiri di teras rumah, sambil memandangin bintang yang mulai hilang tertutup awan. Aku berpikir ini adalah akhir dari semua, semua yang kuinginkan harus kurelakan, rela berkorban demi kebahagiaan sahabatku.. SAHABAT LEBIH DARI CINTA
Ini lagu terakhir dariku
Ku inginn kau tauuu….
Dirikuu disiniii, menanti diiirimu….
Meski ku tungguu hinggaa jung waakktuuukuuu……….
Dan berharap rasaaaa inii kan abadi untuk seeelamaaanyaaaa……

Dan izinkaaan akuuu, memeluk dirimuu, kali iniii sajaaa..
Tuk ucapkan slamat tinggalll untukk slamanyaaa..
Dan biarakan rasa ini bahagia untuk seeekejap sajaaa…..
( ungu)

The end

SAHABAT JADI CINTA

SAHABAT JADI CINTA
Karya Hera Khaerani

Pagi itu aku berangkat ke sekolah bersama sahabatku yang bernama ardy, dia sangat baik padaku, disekolahpun dia berusaha menjagaku dengan baik, memang aku tidak satu kelas dengan ardy. Karna kebaikannya itu, membuat aku punya perasaan lebih dari seorang sahabat, aku sayang sama ardy lebih dari sahabat, tapi aku takut ungkapin semuanya, aku takut nantinya malah merusak hubungan persahabatanku sama ardy. Tiba-tiba bel istirahat berbunyi, lalu ardy menghampiriku ke kelas.
“alya, ke kantin yuk” ajaknya
“oke, ayo” jawabku

Lalu kami berdua pun pergi ke kantin, sesampainya disana kami bertemu dengan miko, dia teman sekelasku dan teman teman pun bilang kalau dia suka padaku tapi aku tidak terlalu menghiraukannya. Tiba-tiba miko menghampiriku dan ardy.
“hay al..” sapa miko padaku
“iya, mik” jawabku
“ayo al kita duduk disana” ajak ardy
“al, aku boleh ikut gabung” Tanya miko
“iya, boleh aja” kataku
Sahabat Jadi Cinta
Lalu kami makan bersama, tapi ada pandangan yang aneh pada ardy, dia terlihat tidak senang saat miko ikut bergabung bersama kami. Aku berharap ardy cemburu pada miko, tapi aku tidak bias berharap lebih seperti itu. Atau bisa saja ardy hanya takut kehilanganku sebagai sahabatnya saja, maklum kami bersahabat sejak kecil. Lalu bel masuk pun sudah terdengar.
“ayo al kita ke kelas” ajak miko
“iya, kamu duluan aja..aku bareng ardy” ucapku
“yaudah, aku duluan ya al” jawab miko
“dia siapa sih al” Tanya ardy kesal
“oh, itu miko temen sekelasku” jawabku
“oh itu yang namanya miko yang katanya suka sama kamu al” Tanya ardy serius
“ih apaan sih” jawabku dengan tidak menghiraukan pertanyaan ardy
Hari itu ardy kelihatan berbeda, dia terlihat seperti seseorang yang kehilangan semangat hidupnya. Aku merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh kuketahui, tapi apa? Aku kan sahabatnya, kenapa dia tidak ingin berbagi cerita padaku.
***

Ketika aku sedang berjalan menuju rumah, lalu miko menghampiriku untuk mengajakku pulang bersamanya. Padahal aku mengharapkan ardy yang mengajakku pulang.
“al, aku anter pulang yuk” sapa miko tiba-tiba
“makasih mik, aku pulang sendiri aja” jawabku
“beneran gapapa pulang sendirian?” Tanya miko
“iya, gapapa ko” sahutku
“yaudah kamu hati-hati ya” kata miko

Miko pun pergi. Memang saat itu aku sedang tidak bersama ardy karna ardy sedang ada pelajaran tambahan jadi ya aku pulang sendirian. Sesampainya aku di rumah kelihatannya ibu sedang membuat kue pesanan, lalu aku ganti baju dan membantu ibu membuat kue. Ketika sedang membantu ibu di dapur, tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku, lalu aku membuka pintu itu dan ternyata itu ardy. Aku sangat senang saat melihat ardy ke rumahku kali itu.
“lagi sibuk al?” Tanya ardy
“aku cuma lagi bantu ibu bikin kue” sahutku
“oh, aku pikir tidak sedang sibuk” jawab ardy
“emangnya ada apa?” kataku
“ngga, tadinya aku mau ajak kamu keluar, tapi yaudah nanti malam aja, kamu bias kan?” pinta ardy
“iya, nanti malam aku bias ko” jawabku
“yaudah nanti malem aku jemput kamu ya al” sahut ardy
***

Malam pun tiba, aku bersiap siap untuk menunggu ardy di rumah, tidak biasanya ardy mengajakku keluar malam seperti ini, namun sepertinya ada hal yang ingin disampaikan serius ole ardy padaku, ketika aku sedang duduk di luar menunggu ardy lalu ardy pun muncul.
“malam al” sapa ardy
“iya, kita mau kemana” tanyaku
“aku mau tunjukin sesuatu ke kamu” jawab ardy sambil tersenyum
“tunjukin apa” tanyaku penasaran
“nanti juga kamu tau al, yaudah yuk kita berangkat” ajak ardy

Kami pun bergegas pergi dari rumahku, dijalan pun aku bertanya tanya sebenarnya ardy mau ajak aku kemana dan dia itu mau tunjukin apa ke aku, ardy bilang tempatnya sedikit jauh jadi aku harus bersabar, aku makin penasaran apa yang mau dia tunjukin ke aku. Beberapa saat kemudian ardy berhenti di suatu tempat, tempatnya itu tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi.
“kita ko berenti disini ar” tanyaku bingung
“iya memang ini tempatnya” jawab ardy
“terus apa yang mau kamu tunjukin ke aku” tanya aku lagi
“yaudah tapi kamu tutup mata ya al” pinta ardy
“ko pake acara tutup mata sih” sahutku
“yaudah nurut aja pokonya” jawab ardy
“oke aku turutin mau kamu” kataku

Lalu aku di ajak berjalan entah tau mau kemana, aku semakin penasaran apa yang mau ardy tunjukan padaku, dan sesampai pada tempatnya, ardy menyuruhku berhenti melangkah dan tunggu hitungan satu sampai tiga, setelah itu aku disuruh buka mata.
“kita udah sampe tempatnya?” tanyaku
“iya, tunggu jangan buka mata dulu” pinta ardy
“oke, tapi sampe kapan aku tutup mata” tanyaku lagi
“sebentar ya al tunggu aba aba dariku” jawab ardy
“oke oke tapi jangan lama lama” pinta alya
“oke, satu…dua..tigaaa…” aba aba ardy

Setelah hitungan ketiga dan akupun membuka mata, ternyata ardy menunjukan kunang kunang yang berada di tepian danau dan di danau itupun ada lilin lilin yang membentuk kata ‘I love you’ aku terkejut saat ardy memberikan mawar merah dan menyatakan perasaannya padaku, aku sangat sangat tidak menyangka kalau ardy pun mempunyai perasaan yang sama sepertiku.
“al, aku sayang sama kamu, kamu mau jadi pacar aku” sahut ardy gugup
“kamu nembak aku ar?” tanyaku serius
“iya al, maaf aku memendam semua rasaku ini” jawab ardy
“sudah lama kamu memendam semua ini?” tanyaku lagi
“iya al sudah cukup lama, dan aku baru berani mengatakannya sekarang” jawab ardy
“kenapa ngga dari dulu bilangnya?” tanyaku penasaran
“aku cuma takut ngerusak persahabatan kita aja al” sahut ardy
“jujur aku juga sayang kamu lebih dari sekedar sahabat ar” jawabku mengakui
“jadi gimana al hubungan kita?” Tanya ardy sangat serius
“iya aku mau ko jadi pacar kamu ar” jawabku malu malu
“beneran al kamu terima aku?” Tanya ardy lagi meyakinkan dirinya
“iya ar aku serius, aku gak mau kehilangan kamu” jawabku lagi
“makasih ya al, aku akan jagain kamu semampuku” sahut ardy sambil memelukku
Malam itu aku dan ardy pun sangat bahagia, terutama aku, karena aku tidak menyangka kalau ardy akan menyatakan perasaannya kepadaku, diapun berjanji untuk tetap menjagaku seperti dulu dan tidak akan meninggalkanku.

*SELESAI*

PESAN TERAKHIR DARI SAHABAT

PESAN TERAKHIR DARI SAHABAT
Karya Aliyah Utamawanti

Langkah demi langkah telah kami tapaki. Panas, hujan, senang dan duka telah kami jalani. Kebersamaan ini seakan tak bisa digantikan oleh uang ataupun berlian yang mahal. Itulah Aku dan Icha. Kami sudah bersahabat sangat lama, dari mulai Sampai saat ini di bangku kuliah. Banyak hal yang kami lalui. Sampai di semester 4 ini kam selalu kompak. Meskipun ada masalah yang menghadang kami tetap bersama. Saat itu ketika aku sedang berjalan melewati perpustakaan, aku melihat Icha dududk sendiri dalam keadaan wajah yang murung.
"Hai Cha....!!? Kmu kenapa??" Tanya ku
"Haah.. Aa.. Aku.. Aku nggak apa – apa kok Ndin?!" Jawabnya terkejut
 
Hari itu aku melihat sahabatku untuk pertama kalinya tak ceria. Sebelumnya aku tidak oernah melihatnya seprti itu, yang biasanya ku lihat adalah goresan senyuman kecil nan manis dari bibirnya. Aku bingung dan termenung di depannya.
***
Pesan Terakhir dari Sahabat
Lalu tiba – tiba dia mengeluarkan selembar formulir beasiswa untuk melanjutkan kuliah semester 5 sampai akhir di Busan University, Korea Selatan. Karena kebetulan kampus tempat kami kuliah menjalin kerjasama dengan Busan University di bidang Teknik Arsitektur, Kedokteran, dan Kesenian.
"Andin... Jika kamu mempunyai kesempatan kuliah dengan beasiswa ke luar negeri, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Icha.
"Ya aku akan kejar itu, tapi... itu semua nggak mungkin karena aku nggak secerdas kamu..." Jawabku minder sambil menundukkan kepala.
"Kalau kamu nggak cerdas, kamu nggak akan nggak masuk Fakultas Kedokteran.. So bagaimana, kamu masih berminat melanjutkan kuliah ke luar negeri kan??" Sahut Icha sambil memegang pundakku.
"I.. Iya siih.. Tapi.. kamu juga akan ikutkan?? Waktu itu kan kita sudah sepakat untuk kuliah bersama di luar negeri jika memperoleh beasiswa..." Kataku.
"Kalau aku,, aku nggak tahu.. Aku bingung.." Jawab Icha.
"Lhoo kenapa bingung.. Seharusnya kamu ambil beasiswa itu.. Rugi banget kalau nggak kamu ambil..." Sahutku.
"Justru aku ambil ini untuk kamu, Ndin. Supaya kamu nggak mimpi terus ingin kuliah ke luar negeri. Maaf ya, Ndin aku masih ada jam kuliah..." Tutur Icha sambil tersenyum manis. Seakan – akan itu adalah senyuman perpisahan.
Sedangkan aku hanya terangah dan terdiam melihat sahabatku Icha seperti itu.
***

Akhir – akhir ini aku memang heran melihat perubahan tingkah laku Icha yang aneh. Ia jarang memasang senyumannya yang manis. Yang dia berikan padaku sekarang adalah petuah dan motivasi – motivasi agar aku tekun belajar demi menggapai cita – cita. Mungkin itu karena kami sudah dewasa. Kami harus menyiapkan diri untuk menatap masa depan yang akan datang. Tapi sebenarnya itu terlalu aneh. Apa yang terjadi pada sahabatku Icha? Bahkan untuk kali ini aku tidak bisa membaca tingkah laku Icha yang aneh itu.

Saat malam, ketika aku sedang menyelesaikan proposal, aku teringat kepada selembar formulir beasiswa yang diberikan Icha kepadaku. Aku membaca formuir itu dan bertanya dalam hati.
"Apa aku bisa melanjutkan kuliah ke Universitas Busan? Apa mungkin aku bisa mencapai cita – citaku sebagai seorang dokter?"

Saat aku sibuk memikirkan perasaanku, tiba – tiba handphone ku berdering, ternyata itu telfon dari Icha.
"Hallo Andin..?" Sapa Icha.
"Iya.... Ada apa Cha..?? Tumben malam – malam telfon!?" Sahutku.
"Aku hanya mengingatkan jangan lupa mengisi formulir beasiswa formulir itu. Karena formulir itu akan dikumpulkan hari Senin dan pada hari itu juga akan diadakan seleksi mahasiswa yang akan mendapatkan beasiswa ke Universitas Busan. Ok friend..!!?"
"Itukan kurang satu minggu lagi.. Kamu tuh lebay banget siih Cha...??! Satu minggu kan masih lama..."
"Iya.. Satu minggu memang lama, tapi hari kan berjalan terus.. ntar tahu – tahu aja udah hari Mingu...."
"Hehehehe...... kok ngelantur gtu siih Cha...??"
"Hehehehe....... Ngelantur... Ya nggaklah.. Memang satu minggu itukan cepat... Sudah ya,,, aku hanya mau beritahu itu doang.... Semoga kamu bisa melanjutkan kuliahmu di Busan yaa teman...!!?"
***

Tiga hari berlalu, seperti biasa aku menaiki sepeda motor matikku untuk melaju ke kampus. Sampai di sana banyak mahasiswa kedokteran yang sudah mengumpulkan proposal, tidak ketinggalan juga aku. Setelah selesai mengumpulkan proposal, aku langsung menuju tempat dimana biasanya Icha berada, yaitu perpustakaan. Tapi hari itu beda, aku sama sekali tidak melihat Icha, mungkin Icha masih ada jam kuliah. Lama aku menunggu Icha di perpustakaan. Karena jenuh, aku melangkahkan kakiku perlahan – lahan menuju pintu untuk keluar. Tepat di depan pintu keluar itu aku bertemu dengan teman sekelas Icha.
"Eee.. Vi... Vitha....!!? Kamu Vitha kan teman sekelas Icha...??"
"Oohhw... Iyaa... Ada apa yaa...?? Bukannya kamu Andin..?"
" Iyaa,, Aku Andin... Eee,, Icha hari ini masuk kuliah nggak..? Karena sejak tadi aku nunggu Icha di perpustakaan ini, tapi Icha nggak datang – datang..."
"Lhoo... Ndin kamu belum tahu yaa....??!!"
"Maksud kamu belum tahu apa... Aku nggak ngerti apa – apa....??"
"Yang bener... Kamu kan sahabatnya Icha yang paling dekat.... Icha sakit, Ndin..."
"Apaa.....!!! Kamu nggak bohong kan Vit.. Emang Icha sakit apa...??!"
"Aku kurang tahu, tapi ku dengar Icha mengidap kanker.. tapi itu nggak mungkin.. Karena selama ini Icha nggak menunjukkan tanda – tanda seperti orang yang sakit parah. Dia malah melakukan aktivitasnya seperti biasa... Bahkan saat mendengar kabar itu, aku sama sekali nggak percaya.. Lebih baik kamu sekarang ke rumah Icha "
"Haaahh... Makasih ya Vit atas infonya..."

Sebenarnya aku nggak percaya tentang apa yang dikatakan oleh Vitha padaku. Tapi aku juga merasa bingung karena sudah tiga hari aku tak bertemu dengan Icha. Terakhir aku berkomunikasi dengan Icha lewat telfon. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju rumah Icha.
"Assalamu'alaikum.... ???"
"Wa'alaikumsalam..... Eeehh Non Andin..."
"Bi,, apa Icha ada di rumah? Aku ingin ketemu sama dia Bi..."
"Lhoo,, Non Andin belum tahu yaa,,,!? Non Icha masuk rumah sakit.. Non Icha Sakit Non... "
"Astaghfirullah....!! Apa Bi..? Bibi nggak bohong kan..?? Icha sakit apa Bi..??"
"Non Icha sakit kanker stadium akhir, Non..." Sambil menitihkan air mata.
"Apaa... nggak mungkin....!!"
"Lebih baik Non andin sekarang ke rumah sakit Mutiara Medika sekarang juga.."
"Iyaa,, makasih ya Bi...."
***

Dengan langkah tergesah – gesah aku segera menuju ke rumah sakit Mutiara Medika. Sampai di sana aku bertemu dengan kedua orang tua Icha. Mereka kelihatan sedih. Aku pun berjalan mendekati mereka.
"Keadaan Icha sangat mengkhawatirkan..." Kata mama Icha sambil menangis
"Tante,,, Tante yang sabar yaa Tan.. Tante harus yakin kalau Icha pasti sembuh dan bisa ceria lagi.."
"Tante sudah coba untuk yakin, tapi seprtinya tidak mungkin... mengingat kanker yang di derita Icha sudah sangat parah.."
"Tante harus percya sama Tuhan, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi Icha, Tante, dan Om.. "
"Iyaa... Terimakasih yaa Andin.. Hanya kamu sahabat yang paling baik untuk Icha... "
"Eee,,, Tante,, bolehkah aku melihat Icha sebentar... Aku ingin tahu keadaan Icha, Tante,,,"
"Boleh Andin,,"

Perlahan langkahku menuju masuk ruang ICU. Seketika tubuhku lemas. Aku tak sanggup menahan air mataku yang terus keluar, apalagi saat aku melihat alat – alat yang dipasangkan ke tubuh Icha. Aku melihat sahabatku bertarung melawan penyakitnya sendiri. Mengapa Tuhan tak membagi penyakit Icha kepadaku juga,, aku tak sanggup melihat sahabatku koma seperti ini.
"Hai.. Cha.. Ini aku Andin.. Sahabatmu... Kenapa kamu berbaring disini,, ini bukan tempatmu Cha... Apa kamu tahu Cha.. Aku kangen banget sama kamu.. Aku ingin kamu tertawa lagi Cha, aku ingin kamu ngajari aku matematika lagi Cha, aku ingin lihat dan dengar kamu main piano lagi Cha.. aku ingin mengulang semua yang pernah kita jalani Cha.. Baik suka maupun duka. Cha,, aku ingin kamu buka mata kamu Cha.."
"Sudah.. Andin,,, Icha pasti dengar apa yang kamu katakan... Hanya Icha tak sanggup untuk berbicara.. "
"Tapi Andin ingin Icha buka mata, Tante... Andin ingin Icha melihatku disini..."

Tak lama kemudian... Tubuh Icha kejang dan alat detak jantung Icha tidak berjalan lancar. Aku dan mama Icha segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Icha. Dokter pun datang dan kami menunggu di luar rung ICU sambil berdoa agar tidak terjadi apa – apa dengan Icha.
"Andin... Apa sebelumnya Icha pernah bilang ke kamu, bahwa ia mengidap kanker otak.."
"Icha nggak pernah bilang apa – apa ke Andin, Tante.. Mengeluh saja Icha tidak pernah.."
"Ya,, Allah.. berarti Icha menyembunyikan penyakitnya ini dari kita semua.. Tante juga baru tahu Icha mengidap kanker otak satu minggu yang lalu. Tante menemukan selembar surat dari rumah sakit yang berada di bawah bantal Icha. Ternyata surat itu adalah surat pernyataan dari dokter, yang menyatakan bahwa Icha mengidap kanker otak stadium akhir..."
"Kenapa Icha menyembunyikan ini dari kita, Tante. Kenapa Icha tak mau membaginya dengan kita.. tapi memang Tante akhir – akhir ini aku melihat perubahan pada diri Icha. Icha yang biasanya ceria, suka bercanda, berubah menjadi seseorang yang murung dan pendiam. Icha lebih suka menghabiskan waktunya di kampus,, tidak seperti biasanya, ketika Andin ajak Icha main selalu mau."
"Mungkin Icha sudah tahu saat yang akan tiba ini...." Sahut papa Icha.
"Papa...!!!!"

Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruang ICU. Tapi aku malihat raut wajah dokter itu menujukkan kesedihan, semoga hal itu tidak terjadi.
"Ibu,,, Bapak,,, Mungkin ini adalah keputusan Tuhan yang terbaik bagi kita semua..."
"Maksud dokter apa,, anak saya bisa di selamatkan kan, Dok??! Icha selamat kan, Dok??" Kata mama Icha.
"Maaf, Bu, Pak, Adik... Icha tidak bisa diselamatkan,, Icha sudah meninggal..."
"Apa dokter,, tidak mungkin.. Icha tidak mungkin meninggal.. Icha masih hidup.. Dia anak semata wayang saya dokter,, Icha anak yang kuat. Dia tidak mungkin meninggal...."
"Innalillahiwainnaillaihiroji'un.... Icha anakku... sudah Ma,, sudah,, Icha sudah tiada,,"
"Innalillahiwainnaillaihiroji'un.... Icha,,, kenapa kamu harus pergi secepat ini Cha... Tante, Om.. yang sabar yaa,,, mungkin ini cobaan untuk kita semua..."

Mama Icha langsung menerobos masuk ke rusng ICU.
"Icha,, syang ini mama nak.. Bangun nak ini mama..."
"Ma.. Sudah ma.. Icha sudah meninggal..."
"Tante........."
Tangisan pun pecah di dalam ruang ICU. Duka pun menyelimuti hari ini. Kami tak akan lagi menemukan keceriaan Icha lagi, dan aku tak akan lagi menjumpai Icha yang selalu menyapaku saat di kampus. Tubuhku tiba – tiba lemas, tak sanggup lagi berdiri tegak. Mama dan papa Icha langsung bersimpuh karena tak kuat kehilngan anak semata wayangnya itu.
***

Selang berapa lama kemudian, jenazah Icha di bawa pulang untuk dikebumikan. Suasana haru dan pilu menyelimuti pemakaman Icha. Begitu batu nisan telah tertancap di atas tanah merah, duka dan derai air mata tak henti – hetinya mengalir di pemakaman ini. Lalu langkah demi langkah yang pelan akhirnya meninggalkan pemakaman.
***

Lima hari setelah kepergian Icha, aku merasa kesepian. Aku tiidak menemukan lagi senyuman, gurauan dan suara Icha yang selalu membuatku senang. Rasanya aku masih belum percaya kalau Icha telah pergi untuk selamanya. Tapi aku telah mengikhlaskan kepergian Icha.

Sore hari sepulang kuliah aku menyemptkan diri untuk mampir ke rumah Almarhummah sahabatku Icha. Masih sangat terlihat suasana duka di rumah Icha, bahkan kedua orang tua Icha masih belum bisa menghilangkan rasa kehilangan anak semata wayangnya itu. Aku melihat Mama Icha berada di kamar Icha sambil mengusap – usap foto anaknya, Icha. Aku pun menghampiri mama Icha.
"Tante... Tante apa kabar....??"
"Tante baik – baik saja, Andin... Tapi tante sangat merindukan anak tante... Tante masih belum percaya kalau Icha sudah meninggalkan tante untuk selama – lamanya... "
"Tante.... tante harus bisa mengikhlaskan kepergian Icha... Kalau tante sedih terus Icha pasti juga ikutan sedih disana... Tante nggak mau itu terjadikan... Tante harus yakin, meskipun Icha udah nggak ada, tapi Icha akan terus ada di sini.. dia tetap nggak akan pernah menghilang. Tante harus percaya itu."
"Iya, Andin... tante coba untuk ikhlas,, dan tante tahu akan hal itu.. Kamu tahu Andin, kamar Icha ini banyak menyimpan kenangan buat tante..."
"Iya, tante.. aku rasa juga begitu..."
"Andin.. Tante tinggal dulu ya sebentar..."
Saat Mama Icha meninggalkanku sendiri di kamar Icha, aku merasa Icha juga ada disini, menemaniku. Kenangan tentang Icha masih melekat di otakku. Semua masih terlihat sama. Mulai dari tatanan foto, tempat tidur yang dihiasi teddy bear favorit Icha dan tatanan meja belajar yang teratur. Lalu entah menagapa kakiku terarah ke meja belajar Icha. Aku melihat sebuah kotak yang berisi buku harian, mungkin itu buku harian Icha. Ku buka dan ku baca buk harian itu.

Tulisan Icha sangat rapi. Dari semua tulisan yang tergores di lembaran buku harian itu, aku tertuju pada bagian lembar buku bagian akhir. Ada tulisan yang membuatku tercengang dan terdiam.
"Dear Diary....
Ini adalah lembaran terakhir dri buku harianku.. mungkin ini juga akan menjadi hari terakhirku untuk menulis si lembaran kertas ini. Aku ingin semua yang tergores dalam lembaran kertas ini berarti dan bermakna. Segal tentang hidupku, tentang orang tuaku, tentang sahabatku, dan semua orang yang kusayangi...

Aku ingin tetap hidup di hati mereka, ingin tersenyum untuk mereka, meski suatu saat nanti sukma ini akan hilang juga.
Untuk kedua orang tuaku, terimakasih atas segalanya. Atas kasih sayang kalian, perhatian kalian. Karena tanpa mama dan papa aku tidak akan hidup sampai sekarang, bahkan aku tidak akan bisa sekuat ini.

Terimakasih untuk sahabat terbaikku, Andin. Kamu memang sahabat yang selalu ada di setiap aku butuh, sahabat yang tak pernah pamrih dan sahabat yang selalu temani aku disaat suka maupun duka. Maaf jika aku sering merepotkanmu. Tanpa kamu, aku tidak akan seperti ini, menjadi seseorang yang tegar dalam menghadapi semuanya.

Maaf, jika aku tidak bisa membagi rasa duka dan sakit ku ini pada kalian semua. Aku tak ingin kalian sedih karenaku. Karena hanya untuk memikirkan ku. Aku tak ingin kalian terbebani oleh ku.
Jika Tuhan hanya memberiku waktu semalam ini saja, aku nggak akan membiarkan orang – orang sedih melihatku. Aku akan berusaha tersenyum dan tertawa di depan mereka. Namun, jika orang – orang sudah melihatku terbaring kaku, aku nggak ingin setetes air mata jatuh dari semua orang yang ku sayangi, tetaplah tersenyum walaupaun itu duka. Karena aku akan selalu ada untuk kalian semua.
Pesan terakhir untuk kedua orang tuaku. Ku mohon kalian jangan bersedih jika aku telah tiada. Ku mohon kalian jangan menangis karena kepergianku. Karena aku nggak akan ninggalin mama dan papa. Kalian adalah orang tuaku yang sempurna. Yang telah berhasil mendidikku. Terimakasih.. mama, papa... You're my everything...

Dan pesan terakhir untuk sahabatku, Andin. Jangan pernah sia – siakan waktumu. Kejarlah cita – citamu setinggi langit, raihlah apa yang kau impikan dan jadikan itu sebuah kenyataan. Karena suatu saat nanti dunia akan menyambutmu dengan penuh senyuman. Semoga kamu bisa melanjutkan kuliah ke Universitas Busan. Dan jika kamu kembali tunjukkan padaku atas keberhasilanmu. Tetaplah semangat dan jadi diri sendiri dan hadapilah semua masalah dengan senyuman. Kamu adalah sahabat yang sempurna bagiku. Best friend forever..."

Ku tutup buku harian itu sambil menangis tersedu – sedu. Aku keluar dari kamar Icha sambil membawa buku harian itu dan berpamitan kepada orang tua Icha.
Langkahku bergegas menuju kampus lagi. Kini aku nggak ingin mengecewakan sahabatku dan kedua orang tuaku yang selalu mendukungku di setiap perjalanan sekolahku. Aku akan mengikuti program beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke Universitas Busan. Dan menggapai cita – citaku disana.
***

Tak terasa lima tahun berlalu. Kini aku pulang menuju Indonesia. Tak terasa waktu begitu cepat bergulir mengganti lembaran lama menjadi baru. Aku sudah tidak bisa menahan kerinduanku untuk kembali ke negeriku. Sesampainya di bandara, aku bertemu dengan orang – orang yang ku sayangi. Ternyata mereka sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatanganku. Tak ketinggalan juga kedua orang tuaku. Aku sangat merindukan mereka begitu pula dengan kakakku, aku juga sangat rindu padanya. Tapi ada satu yang nggak ku lihat dari kerumunan orang - orang yang menyambut kedatanganku. Icha, aku nggak menenukan Icha di sekitar kerumunan itu. Tapi aku yakin Icha ada untukku disini.

Selang berapa lama setelah kedatanganku di bandara dan melepaskan kerinduan bersama orang – orang yang ku sayangi. Aku beranjak ke makam sahabatku Icha. Aku akan melepas kerinduaku pada sahabatku Icha.
"Icha... Kamu bisa lihat sekarang... Ini aku, sahabatmu, Andin. Aku telah berhasil menjadi seorang dokter. Aku nggak ingin kamu sedih. Sekarang tersenyumlah, aku disini. Aku senang banget, berkat motivasi darimu, aku jadi seseorang yang bisa memaknai hidup dan lebih dewasa. Icha.... Aku nggak akan pernah melupakanmu. Kamu adalah sahabatku yang tak pernah lekang oleh waktu. Meskipun kamu sekarang sudah tiada di dunia ini, tapi di hatiku kamu tetap hidup dan kamu tetap abadi. Kamu adalah seorang sahabat yang bisa menjadi inspirasi dalam hidupku. Terimakasih sahabat"

Banyak yang ku pelajari dari sahabatku, Icha. Aku bisa menjadi seperti ini karena aku sadar tanpa usaha dan doa, semua yang ku lakukan tak akan ada hasilnya. Aku pernah bermimpi lalu terbangun, namun yang ku lakukan bukan tertidur lagi, tapi aku beranjak dari tempat tidur dan mengejar mimpi itu sampai ku dapatkan. Dan yang terpenting aku selalu mengingat pesan terakhir dari sahabatku "Jangan pernah sia – siakan waktumu. Kejarlah cita – citamu setinggi langit, raihlah apa yang kau impikan dan jadikan itu sebuah kenyataan. Karena suatu saat nanti dunia akan menyambutmu dengan penuh senyuman.

Kamis, 19 Desember 2013

Maafkan Aku Sahabat

MAAFKAN AKU SAHABAT
Puisi Riri

Mungkin semua yang ku perbuat
membuat mu marah dan benci
tak pernah terfikir oleh ku
kalau kalian akan membenci ku
dan meninggalkan ku seorang diri....

Semua kenangan yg pernah ada
sayang yang pernah berbagi
kini berubah menjadi permusuhan
yang tak ada artinya

Maafkan aku sahabat
yang tlah melukai mu
maafkanlah aku
yang tak bisa menjaga persahabatan kita

Tapi.....
kalian akan slalu di hati ku
slamanya kalian tetap sahabat ku
tulus maaf dari ku sahabat...
yang slama ini tak mampu
mengucapkan maaf pada mu